Langkah Kecil Penjual Es Campur di Jombang menuju Baitullah

  • 15 Apr 2026 16:00 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang — Langkah sederhana yang ditempuh dengan penuh kesabaran akhirnya mengantarkan harapan besar menuju Tanah Suci. Mukti Ali, 54 tahun, seorang pedagang es campur asal Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, bersama sang istri, Anik, 60 tahun, kini bersiap menunaikan ibadah haji pada 2026, setelah melalui perjalanan panjang yang sarat makna dan perjuangan.

Di balik gerobak es campur yang setiap hari ia dorong, tersimpan doa-doa yang tak pernah putus. Mukti Ali mengisahkan, dirinya tidak pernah menyangka dapat menjadi tamu Allah. Dengan segala keterbatasan, ia tetap bersyukur atas kesehatan dan rezeki yang cukup untuk melunasi biaya perjalanan haji.

“Alhamdulillah, kami diberi kesehatan dan dimampukan melunasi biaya haji. Kami ini hanya orang kecil, sehari-hari mendorong gerobak es campur. Tapi Allah berkehendak, akhirnya kami bisa berangkat. Rasanya luar biasa, penuh syukur,” katanya, saat ditemui RRI di kediamannya, Rabu, 15 April 2026.

Sebelum menjadi pedagang es campur, Mukti Ali pernah mengayuh becak untuk menghidupi keluarga. Kini, selain berdagang di siang hari, ia juga mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an pada malam hari. Kehidupan sederhana itu dijalaninya tanpa keluhan, bahkan ia mengaku tidak pernah terbiasa berutang.

“Sehari-hari kami makan cukup, tidak pernah berutang. Kami percaya, rezeki itu Allah yang atur. Ternyata, di balik itu semua, Allah titipkan juga jalan untuk kami bisa ke Baitullah,” ujarnya.

Perjalanan menuju tanah suci bermula dari kebiasaan yang tak terduga. Mukti Ali kerap diminta memimpin pembacaan talbiah dalam acara walimatul safar warga yang akan berangkat haji atau umrah. Setiap kali melantunkan talbiah, hatinya selalu bergetar hingga tak kuasa menahan air mata.

“Setiap memimpin talbiah, saya selalu menangis. Tidak tahu kenapa, hati seperti terpanggil. Dari situ saya bicara ke istri, lalu kami mulai menabung sedikit demi sedikit,” ucapnya.

Dengan tekad kuat, ia lebih dahulu mendaftar haji menggunakan tabungan yang dikumpulkan perlahan. Empat tahun kemudian, sang istri menyusul mendaftar setelah tabungan kembali mencukupi.

Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis, ketika keduanya dinyatakan masuk dalam kuota haji reguler Kabupaten Jombang tahun 2026. Bagi Mukti Ali dan Anik, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan dalam diam.

Dari lorong-lorong desa, dari gerobak sederhana, hingga lantunan talbiah yang basah oleh air mata, keduanya membuktikan bahwa harapan tidak pernah terlalu tinggi bagi mereka yang tekun menjemputnya dengan iman dan kesabaran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....