Lebaran Sunyi di Rumah Lansia Gusdurian Pare Kediri

  • 21 Mar 2026 12:28 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Lebaran 1447 Hijriah di Rumah Lansia Gusdurian Pare, Kabupaten Kediri, hadir dalam sunyi yang lirih. Tidak ada riuh tawa atau hangat peluk keluarga seperti lazimnya hari kemenangan.

Yang terdengar hanya gema takbir yang pelan, seolah mengalun dari ruang-ruang rindu yang tak sempat pulang. Di tempat ini, Idulfitri menjelma jeda panjang antara kenangan, kehilangan, dan harapan yang masih digenggam dalam diam.

Budiarti, salah satu penghuni yang berasal dari Surabaya, menuturkan bahwa Lebaran tahun ini menjadi yang paling berat dalam hidupnya. Baru dua bulan menetap di rumah lansia tersebut, ia harus merayakan hari raya tanpa kehadiran keluarga tercinta.

“Lebaran kali ini terasa sangat sepi bagi saya. Tidak bisa berkumpul dengan anak-anak, tidak ada yang menemani. Tiap hari saya hanya bisa menangis karena rindu. Suami saya juga sudah tiada,” ujarnya dengan suara yang bergetar saat ditemui RRI, pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Budiarti, penghuni Rumah Lansia Gusdurian Pare (Foto : RRI/Kusuma)

Kesunyian yang sama juga dirasakan oleh sebagian besar penghuni lainnya. Kenangan tentang kebersamaan di hari raya masih terekam jelas dalam ingatan mereka, menjadi bayang-bayang yang terus hadir di tengah keterbatasan yang mereka miliki saat ini.

Pengelola Rumah Lansia Gusdurian Pare, Yunita Maria, kepada RRI juga mengungkapkan bahwa setiap Lebaran memang selalu menjadi momen para penghuni untuk mereka bersimpuh dalam simpang rasa, “Di satu sisi mereka senang karena tetap bisa merayakan Lebaran, tetapi di sisi lain ada kesedihan yang mendalam karena tidak bersama keluarga,” ucap Yunita.

Saat ini, terdapat 51 lansia yang tinggal di rumah tersebut, berasal dari berbagai daerah seperti Kediri, Malang, Tulungagung, Sidoarjo, hingga Surabaya. Sebagian diantar oleh keluarga, sebagian lainnya dirujuk oleh pamong desa. Dalam keseharian, para relawan di sini juga menghadapi beragam tantangan, mulai dari kondisi kesehatan penghuni hingga gejolak emosi yang kerap muncul akibat kerinduan yang tidak bisa tercurahkan.

“Kadang ada yang rewel, ada yang ingin pulang, ada yang setiap hari maunya minggat. Itu semua terjadi karena mereka rindu anak-anaknya, rindu keluarganya. Bahkan relawan pun tidak jarang ikut menangis melihat kondisi mereka,” kata Yunita.

Dengan dukungan sekitar 10 relawan, aktivitas perawatan dilakukan setiap hari, mulai dari membersihkan ruangan, memandikan, memasak, hingga merawat lansia yang sakit. Namun di balik itu semua, Yunita menyadari bahwa perhatian yang mereka berikan belum mampu menggantikan kehadiran keluarga sepenuhnya.

Pengelola Rumah Lansia Gusdurian Pare, Yunita Maria (Foto : RRI/Kusuma)

“Kami tetap berusaha memberikan yang terbaik, walaupun kami sadar, yang mereka butuhkan sebenarnya adalah kehadiran dan perhatian dari keluarga mereka sendiri. Apa yang kami lakukan ini mungkin hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat dan hal yang semu di mata mereka,” ucapnya.

Di sisi lain, keterbatasan juga menjadi tantangan tersendiri. Rumah lansia ini belum memiliki donatur tetap, dan bantuan yang diterima masih bersifat insidental.

“Selama ini, kami sangat terbantu dengan adanya orang-orang baik yang datang memberi bantuan, seperti beras, sayuran, atau kebutuhan lainnya. Bantuan dari pemerintah juga ada tapi tidak rutin per bulan. Hanya di momen-momen tertentu saja. Semua itu kami kelola untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para penghuni di sini,” jelas Yunita.

Suasana Rumah Lansia Gusdurian Pare di momen Lebaran 1447 H (Foto : RRI/Kusuma)

Namun di tengah seluruh keterbatasan itu, Yunita tidak pernah menyerah. Ada harapan yang jauh lebih kuat untuk terus membersamai para penghuni lansia.

“Saat ini, kami hanya bisa berdoa. Semoga semakin banyak orang-orang baik yang membuka hati, mengulurkan tangannya untuk peduli. Karena mereka di sini hanya membutuhkan satu hal yang sederhana, yaitu perhatian dan kasih sayang,” tutupnya.

Lebaran di Rumah Lansia Gusdurian Pare bukan sekadar perayaan, melainkan cermin sunyi tentang makna kerinduan yang bagi sebagian penghuninya tak lagi memiliki tempat untuk berpulang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....