Ramadan Tanpa Azan, Kisah Keluarga Indonesia di Inggris

  • 10 Mar 2026 20:16 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Ramadan biasanya identik dengan suara azan yang bersahut-sahutan, lampu masjid yang terang, serta deretan penjual takjil di pinggir jalan. Namun suasana itu tak dirasakan keluarga kecil Astrini Suci yang menjalani bulan suci ribuan kilometer dari tanah air, tepatnya di kota Coventry, United Kingdom.

Bagi Astrini, Ramadan pertama di Inggris menghadirkan pengalaman yang berbeda. Tidak ada kumandang azan di ruang publik, tidak ada ornamen Ramadan menghiasi sudut kota. Bagi umat Muslim di sana, waktu salat hingga berbuka puasa harus dipantau melalui aplikasi di ponsel.

“Di sini suasana Ramadan hampir tidak terasa. Tidak ada azan di tempat umum, jadi kami mengandalkan aplikasi untuk mengetahui waktu salat,” ujarnya.

Selain suasana yang jauh berbeda, tantangan lain datang dari durasi puasa yang terus berubah mengikuti musim. Saat ini Inggris sedang memasuki musim semi, di mana puasa pada awal Ramadan berlangsung sekitar 12 jam dan perlahan memanjang hingga 14 jam menjelang akhir bulan.

Perubahan waktu salat yang cepat juga menjadi hal yang harus terus disesuaikan. Bagi Astrini, dinamika itu membuat ritme ibadah terasa berbeda dibandingkan di Indonesia yang relatif stabil sepanjang tahun.

“Waktu salat di sini cepat berubah. Jarak antar waktunya juga bisa berbeda setiap hari,” katanya.

Cuaca turut memengaruhi pengalaman berpuasa di negeri empat musim tersebut. Jika Ramadan jatuh pada musim dingin, durasi puasa menjadi lebih pendek namun rasa lapar terasa lebih berat akibat suhu yang sangat dingin. Sebaliknya, saat musim panas, matahari bersinar lebih lama sehingga waktu berpuasa bisa jauh lebih panjang.

Meski hidup sebagai minoritas Muslim, Astrini tetap berusaha menanamkan nilai ibadah kepada anak-anaknya. Mereka diajak belajar berpuasa secara bertahap tanpa paksaan, biasanya hingga jam pulang sekolah sekitar pukul 15.30 waktu setempat.

Menariknya, pihak sekolah juga menunjukkan toleransi terhadap siswa yang menjalankan ibadah puasa. Saat jam makan siang, siswa yang berpuasa dipindahkan ke perpustakaan dan dibebaskan dari kegiatan fisik yang terlalu berat.

Kerinduan terhadap suasana Ramadan di Indonesia kerap muncul, terutama saat mengingat ramainya pasar takjil menjelang berbuka. Untuk mengobati rindu itu, Astrini bersama beberapa perantau Indonesia sering menggelar buka puasa bersama.

Di dapur sederhana, mereka memasak hidangan khas Nusantara. Dari aroma masakan hingga canda tawa saat berbuka, kebersamaan itu menjadi cara sederhana menghadirkan kembali hangatnya Ramadan meski berada jauh dari kampung halaman.

Rekomendasi Berita