Achmad Taufik, Memanen Rupiah Berbekal Olahan Sampah
- 07 Nov 2025 22:29 WIB
- Kediri
KBRN, Kediri: Di tengah gejolak ekonomi yang kurang menentu, seorang warga di Desa Wringinanom, Kabupaten Gresik, Achmad Taufik memilih berinovasi.
Pria ini juga tak segan, mengolah tumpukan sampah kulit pisang, daun kering, dan sisa sayur menjadi pundi-pundi Rupiah.
"Saya bersyukur, kini tidak lagi pusing memikirkan harga sembako yang mahal. Sekarang saya lebih memilih berkarya dari sampah, karena itu ladang uang, kalau kata orang kekinian, cuan," kata pengolah sampah di Gresik, Achmad Taufik, pada keterangannya, Jumat (7/11/2025).
Saat ini, keseharian Taufik disibukkan dengan pembuatan kompos yang dipanen dari halaman rumahnya. Tiap hari ia menghitung karung berisi kompos yang siap dijual, sedangkan di sisi lain beberapa orang cenderung mengabaikan bau busuk dari sisa dapur tersebut.
"Kalau orang di luar sana berburu kopi seharga 30 ribuan Rupiah. Saya lebih baik panen kompos, yang kini berpotensi besar sebagai lahan bisnis menjanjikan," kata Taufik.
Alhasil, dari kegigihan Taufik, ia mampu memanen hasil kompos ini setiap dua sampai tiga minggu sekali. Tepatnya, mengambil hasil fermentasi sisa kompos yang siap memperkaya tanah dan kantongnya.
Dari hasil panen kompos saja, pria dengan latar belakang kuli bangunan itu merinci, dapat penghasilan tambahan hingga Rp 1 juta lebih per bulan. Dengan kata lain, melalui bisnis olahan kompos itu dinilainya bukan cuma soal uang, tapi tentang gaya hidup yang lebih hijau dan logis.
Mengenai kemampuan olah kompos, Taufik mengaku, bukanlah orang yang tiba-tiba terpanggil karena nonton video zero waste di TikTok. Apalagi, ia adalah lulusan lapangan sejati, dan pernah lima tahun bekerja di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle).
Dengan pengalaman ini, Taufik memahami bagaimana cara menaklukkan aroma tak sedap dan menciptakan pupuk organik berkualitas. Oleh karena itu, ilmu yang diperoleh tersebut diterapkan di halaman rumahnya.
"Biasanya untuk setiap kali proses pengomposan, saya mengolah dua ton sampah organik. Adapun bahan baku didapat dari sisa dapur tetangga, daun kering dari kebun, dan apapun yang bisa busuk secara alami," ujae Taufik.
Setelah itu, dengan membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu, maka semua bahan tersebut berubah jadi pupuk berwarna gelap, lembut, dan harum tanah basah. Tahapan sederhana ini menghasilkan nilai yang besar, baik buat ekonomi keluarga maupun lingkungan sekitar.
Tak hanya itu, dengan semangat Taufik ini, maka dari halaman rumah lahir toko kecil penuh manfaat. Di sini, kompos buatan Achmad Taufik tak hanya dijual, tapi juga jadi simbol perubahan yakni sampah diolah, bumi disembuhkan.
Dulu, Taufik sempat menjual kompos dengan kemasan 4 kg, tapi mulai sekarang hanya menyediakan karung 20 kg. Hal ini karena pembeli lebih suka yang besar, sehingga kompos ini dapat dipakai satu kebun sekaligus.
Pembeli kompos buatan Taufik, hingga kini ada yang berasal dari PKK, sekolah adiwiyata, dan para penghobi tanam-tanaman dari berbagai kecamatan di Wringinanom.
Lalu, ada konsumen asal Benjeng, Balongpanggang, sampai Gresik Kota, dan umumnya mereka percaya kompos buatan Taufik bermanfaat untuk kesuburan tanaman.
Taufik berharap, ke depan ada banyak orang sadar untuk memilah sampah dari rumah. Dengan demikian, semua warga bisa memisahkan sisa organik dan anorganik, serta ini bisa mengurangi permasalahan sampah di Indonesia.