​Dari Sempoa ke Realitas Virtual, Desa Manggis Bertransformasi

  • 28 Sep 2025 22:19 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, kini tak lagi sekadar desa yang tenang di lereng pegunungan. Berkat sentuhan tangan mahasiswa Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, desa ini menjelma menjadi ruang belajar raksasa.

Mereka menyebutnya Desa Cerdas, sebuah laboratorium hidup tempat teknologi, budaya, literasi, hingga ekonomi kreatif dipadukan dalam delapan pojok inovasi.

Redista Nazriana, mahasiswa Pendidikan Matematika UNP, menyebut konsep “8 Pojok” lahir dari kebutuhan warga. Dari pojok literasi dengan sempoa untuk anak-anak, hingga pojok teknologi lewat coding game untuk siswa SD.

Ada pula pojok lingkungan dengan pengolahan sampah 3R, serta pojok pangan dengan budidaya lele dan kangkung. Semua dirancang agar anak-anak, pemuda, hingga ibu rumah tangga bisa ikut berperan.

“Kami desain sesuai kebutuhan dan potensi desa. Semua bisa terlibat, dari anak kecil sampai orang tua,” kata Redista.

Inovasi itu tidak berhenti di pelatihan. Dari barang bekas, lahir sempoa unik. Dari tangan ibu rumah tangga, tercipta lilin aromaterapi dan tas anyaman. Bahkan mahasiswa turut menghadirkan peta interaktif wisata, website desa, hingga aplikasi 360° berbasis AR/VR untuk memperkenalkan budaya Desa Manggis ke dunia digital.

Ika Santia, dosen pendamping program, menyebut gerakan ini bagian dari gagasan kampus bertajuk Lingkar Desa Cerdas. Menurutnya, delapan pojok tersebut menjawab tantangan nyata: rendahnya literasi, terbatasnya akses digital, hingga perlunya dorongan bagi UMKM lokal.

“Program ini memberdayakan masyarakat sekaligus melahirkan inovasi digital,” ujarnya.

Selama lima bulan, lebih dari 150 warga terlibat aktif. Hasilnya mulai terasa. Sri Mariati, warga Dusun Ringin Bagus, mengaku dulu hanya bisa membuat tas sederhana. Kini, berkat bimbingan mahasiswa,

ia mampu merajut macramé dan menjahit produk yang sudah dipasarkan secara daring. “Saya bersyukur, keterampilan saya bertambah, bahkan sudah menghasilkan,” katanya.

Dampak ekonomi pun mulai muncul. Dhanas Setianur Dwi Sukma Diva, Kepala Urusan Perencanaan Desa Manggis, menyebut banyak ibu petani yang sepulang dari sawah kini ikut pelatihan. “Program ini nyata dan mampu mendongkrak ekonomi desa,” tegasnya.

Tak hanya ekonomi, semangat melestarikan sejarah juga bangkit. Anton Sujarwo, tokoh masyarakat Dusun Dorok, merasa terdorong menjaga koleksi artefak peninggalan Medang hingga Majapahit di rumahnya. Ia berharap, bila dibuat ruang khusus, warisan sejarah itu bisa menjadi wisata edukasi sekaligus sumber ekonomi baru.

Kini Desa Manggis bukan lagi desa biasa. Dari pojok baca hingga pojok budaya, dari coding digital hingga pelestarian artefak, desa ini telah bertransformasi menjadi panggung inovasi. Semua berawal dari mimpi mahasiswa, yang mengajarkan bahwa desa bisa cerdas, maju, sekaligus berdaya.

Rekomendasi Berita