Campursari Desa Brumbung, Nada Budaya yang Tak Lekang Zaman

  • 31 Jul 2025 01:13 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Malam itu, langit Desa Brumbung, Kediri seakan ikut bersenandung. Alunan gamelan dan tembang campursari menggema dari halaman Balai Desa, memecah keheningan menjadi perayaan. Ribuan pasang mata warga menyaksikan pentas seni budaya sebagai puncak Hari Jadi ke-897 Desa Brumbung, Rabu (30/7/2025).

Tak sekadar hiburan, panggung campursari menjadi jembatan penghubung generasi. Ketua panitia Novan Prasetyo menyebut kegiatan ini bagian dari rangkaian pelestarian tradisi, mulai dari shalawatan, pensucian diri di sumber Geneng, hingga kirab budaya. “Kami ingin anak muda Brumbung tumbuh dengan akar budaya yang kuat,” ungkapnya.

Sorotan tertuju pada panggung saat Prigel Pangayu Anjarwening tampil, membawa pesona campursari khas Jawa yang menyatu dengan semangat warga. Kepala Desa Brumbung, Tohari, berharap kegiatan ini jadi ruang pembelajaran nilai. “Lewat seni, anak muda bisa belajar sopan santun dan kebijaksanaan lokal,” ujarnya.

Campursari malam itu bukan hanya panggung hiburan, tapi cermin identitas desa yang terus hidup di tengah zaman digital.

Tohari menambahkan bahwa seni tradisi seperti campursari bukan hanya warisan, tapi juga refleksi nilai-nilai kehidupan. Ia berharap generasi muda Brumbung bisa tumbuh menjadi pribadi yang menghargai akar budayanya sendiri. "Semoga pemuda desa lebih mengenal budaya sekitar, dan dari situ tumbuh adab, sopan santun, serta rasa hormat kepada sesama."

Saat malam semakin larut, suasana panggung tetap hidup. Lantunan lagu campursari terus mengalun, disambut sorak tepuk tangan warga. Di tengah gempuran budaya digital, Desa Brumbung membuktikan bahwa tradisi tak harus tenggelam, selama masih ada generasi yang mau menjaga dan merawatnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....