Kisah Fifi, Pejuang JKN dari Lereng Gunung Kelud
- 30 Jul 2025 23:59 WIB
- Kediri
KBRN, Kediri: Dyah Fitri Ayuningtyas, seorang ibu rumah tangga, di Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, memiliki semangat tinggi dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Perempuan yang akrab disapa Fifi ini, bukan hanya sibuk dengan kegiatan di dalam rumah, berjualan sayur segar, membuka toko kelontong, tapi masih membaktikan dirinya melalui beragam agenda sosial yang sudah terjadwal.
Mulai bertugas sebagai anggota PKK, Kader Kesehatan, dan satu tahun terakhir berkecimpung dalam predikat barunya yakni Agen Pesiar. Adapun Agen Pesiar, merupakan salah satu inisiatif BPJS Kesehatan untuk mendorong optimalisasi pelayanan kepada masyarakat melalui peran aktif desa dan kelurahan.
Langkah ini merupakan tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan berbagai Permendes Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) mengenai pemanfaatan Dana Desa guna pembangunan berkelanjutan (Suistanble Development Goals/SDGs).
"Tugas saya sebagai Agen Pesiar, membantu pemetaan data, penyisiran wilayah advokasi dan pendaftaran peserta JKN," kata Agen Pesiar Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Dyah Fitri Ayuningtyas (Fifi), saat mengunjungi salah satu peserta JKN dari keluarga kurang mampu, di Blitar, pada Rabu (30/7/2025).
Fifi menceritakan, pekerjaan Agen Pesiar dilakoninya dengan penuh sukacita, meskipun secara geografis Desa Soso, Kecamatan Gandusari, berada di lereng Gunung Kelud di wilayah Kabupaten Blitar, merupakan daerah terpencil. Bahkan, warga di sana tak hanya kesulitan mengakses air tapi infrastruktur jalan desa tersebut sangat memprihatikan.
Walau demikian, ritme hidup tersebut dikerjakan oleh Fifi dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Apalagi, kondisi alam di Desa Soso, yang berjarak 21 Km dari ibukota Kabupaten Blitar dengan waktu tempuh satu jam ini, dikenal masyarakat luas memiliki pemandangan yang indah, asri, dan hawa sejuk khas pegunungan.
"Saya setiap hari berjualan sayur segar pada pukul 05.00 WIB, setelah itu membersihkan rumah, memasak, dan baru bisa ke luar untuk bertugas sebagai Agen Pesiar sekitar pukul 09.00 lebih. Tapi hal ini juga tergantung jadwal hari itu, kalau ada agenda edukasi dan sosialisasi JKN saat ada pertemuan PKK, atau grup Pengajian Yasinan, jam kunjungan door to door ya disesuaikan saja," kata Fifi.
Terkait tantangan mengedukasi masyarakat, ia mengungkapkan, umumnya penduduk Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar banyak yang melakukan penolakan ketika ditawari sebagai peserta JKN. Ada juga yang baru akan mencarinya ketika baru merasakan sakit dan membutuhkan kepesertaan JKN. Hal itu juga didukung oleh mata pencaharian warga yang didominasi sebagai petani dan penambang pasir, di mana mereka merasa kondisi fisiknya sehat.
Padahal, dengan menjadi peserta JKN maka upaya ini laksana peribahasa Sedia Payung Sebelum Hujan, yang dimaknai lebih baik menaati aturan pemerintah sebelum mengalami sakit dan berujung pada biaya perawatan sangat besar.
Tantangan lain, disebutkan Fifi, tatkala pihaknya menemui calon peserta JKN dengan usia lanjut yang akan mendaftar, tapi kurang memahami dunia digital. Alhasil, ia harus mencari pendamping calon peserta JKN, entah itu anak kandung, kerabat dekat, atau perangkat desa setempat, mengingat setelah proses pendaftaran berhasil maka perlu mengunduh Aplikasi Mobile JKN di ponsel masing-masing.
Di sisi lain, tantangan Fifi berikutnya ketika ada peserta JKN yang sudah terdaftar dan telah menggunakan manfaat JKN, tapi tiba-tiba berhenti membayar iuran kepesertaan bulanan karena merasa tidak lagi memerlukan. Contohnya, ketika ia menemui ibu hamil dan setelah proses melahirkannya dilakukan dengan dibayar memakai JKN, ternyata tak lagi membayar bulanan. Sebagai dampaknya, kepesertaan warga tersebut dinonaktifkan dan hal ini berpengaruh pada pendapatannya.
Fifi merinci, selama mendalami peran Agen Pesiar dari perpanjangan tangan BPJS Kesehatan, memang pihaknya tidak memperoleh honor khusus. Namun hanya berupa bagi hasil, sebesar Rp 1.000 per transaksi pembayaran setiap peserta, sedangkan ketentuan itu akan hangus ketika menemukan kasus seperti ibu hamil yang putus bayar iuran kepesertaan.
"Kalaupun ibu hamil itu tadi, selepas melahirkan mau mengurus lagi aktivasi BPJS Kesehatannya maka harus dimulai proses nol kembali. Bahkan jika sudah terdaftar lagi, maka saya juga tidak dapat bagi hasil apa-apa, sehingga saya selalu mengedukasi masyarakat jangan sampai itu terjadi seiring besarnya manfaat JKN ini," katanya.
Di tengah banyaknya tantangan, Fifi mengemukakan, pengalaman manisnya saat mengawal peserta JKN yang kurang mampu. Tepatnya ketika bertemu dalam pertemuan PKK di desa setempat dengan Husnul Khotimah (40), yang merupakan anak kandung dari pasangan Nur Salim (66) dan Lasemi (60).
"Saya berharap dengan Program Pesiar ini, tidak ada lagi warga desa yang kesulitan mendapatkan akses layanan kesehatan hanya karena ia belum terdaftar di JKN," kata Fifi.
Dengan keikutsertaan menjadi peserta JKN, Husnul Khotimah (Ima) anak kandung dan pendamping peserta JKN di Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyatakan, kebahagiaan terdalamnya. Program JKN sudah membantu kedua orang tuanya yang mempunyai latar belakang lansia dan tidak lagi produktif. Terlebih lagi, pihaknya sendiri hanya berstatus ibu rumah tangga, dengan suami yang bekerja serabutan.
Sementara, imbuh Ima, jika melihat riwayat kesehatan ayah kandungnya memiliki penyakit asam lambung dan sakit di kaki, sedangkan ibu kandungnya baru pertama kali periksa menggunakan layanan JKN pada tanggal 12 Juli 2025 karena mengeluhkan nyeri di dada, dengan penyakit penyerta kolesterol tinggi.
Namun berkat kepesertaan JKN BPJS Kesehatan yang didampingi oleh Agen Pesiar di Desa Soso, Ima mengaku, biaya perawatan di Rumah Sakit Wlingi, Blitar dapat terbantu dengan baik. Hal ini juga termasuk biaya Rontgen (X-Ray Photo) hingga biaya obat. Di sisi lain, jika tanpa menggunakan BPJS Kesehatan, maka setiap kali periksa dan membutuhkan obat, memerlukan dana sekitar Rp 75.000 hingga Rp 100.000 per orang.
"Saya berharap program JKN ini diteruskan oleh Pemerintah, karena orang seperti saya dan keluarga yang kurang mampu sangat memerlukan bantuan semacam ini. JKN terbukti meringankan beban ekonomi keluarga," katanya.
Menanggapi kinerja Agen Pesiar di Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Kepala Cabang BPJS Kesehatan Kediri, Tutus Novita Dewi, mencatat, keberhasilan implementasi Agen Pesiar dalam mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Mereka mampu turun langsung ke desa-desa, sehingga warga dapat lebih mudah memperoleh informasi mengenai Program JKN dan terdorong untuk segera mendaftar menjadi peserta aktif.
"Wilayah kerja BPJS Cabang Kediri, membawahi Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, hingga Kabupaten Blitar, dan kami aktif mensosialisasikan program BPJS Kesehatan, termasuk program UHC (Universal Health Coverage) dan program JKN," katanya.
Tutus optimis, keberhasilan Agen Pesiar di Desa Soso, juga didukung oleh keberadaan mobil keliling BPJS Kesehatan Kediri yang mendatangi warga secara terjadwal di Kabupaten Blitar sebanyak tiga kali dalam satu Minggu. Dengan input kepesertaan bisa mencapai 20an orang per per titik per sekali kunjungan.
Tak hanya itu, kini di wilayah kerja BPJS Kesehatan Kantor Cabang Kediri telah terealisasi masing-masing empat desa di Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Nganjuk, serta 77 desa di Kabupaten Blitar yang memiliki Agen Pesiar.
Adapun secara Nasional, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti menyampaikan, hingga akhir tahun 2024, jumlah kepesertaan Program JKN mencapai 278,1 juta peserta atau 98,45 persen. Pada periode sama, total pemanfaatan layanan JKN mencapai 673,9 juta kunjungan atau rata-rata 1,8 juta pemanfaatan per hari, yang membuktikan makin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap BPJS Kesehatan dan Program JKN.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....