Wayang Kulit Suroan, Tradisi yang Menyatukan Warga Templek

  • 21 Jul 2025 23:49 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Di tengah semarak peringatan bulan Suro, warga Dusun Templek, Desa Darungan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, kembali menghidupkan salah satu tradisi budaya yang telah diwariskan turun-temurun: Pagelaran Wayang Kulit Klasik. Bertempat di Dusun Krajan, gelaran ini tak hanya menjadi pertunjukan seni semata, melainkan juga wujud syukur dan doa bersama untuk keselamatan desa.

Dengan lakon “Semar Maneges”, Ki Dalang Didik Wibisono memandu pertunjukan yang berlangsung semalam suntuk. Lantunan tembang Jawa, denting gamelan, dan kepiawaian sang dalang menghidupkan kembali tokoh-tokoh pewayangan yang sejak lama menjadi bagian dari spiritualitas masyarakat Jawa.

Menurut Muhammad Isnaini, Ketua Panitia acara, pagelaran ini bukan hal baru bagi warga Krajan. “Wayangan seperti ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kami. Setiap tahun kami teruskan karena ini bukan sekadar tontonan, tapi bagian dari tradisi bersih dusun,” ujarnya saat ditemui RRI, Senin malam (21/7/2025).

Tradisi bersih dusun, lanjut Isnaini, merupakan harapan bersama agar desa dijauhkan dari mara bahaya, tanah menjadi subur, dan warga hidup dalam kedamaian. Maka tak heran bila ribuan warga dari berbagai penjuru Kecamatan Pare dan sekitarnya berdatangan untuk menyaksikan dan turut merasakan khidmatnya suasana.

Panitia bersama aparat kepolisian, Koramil, Babinkamtibmas, hingga pemuda Karang Taruna bahu-membahu mengamankan jalannya acara. Mereka memastikan seluruh warga dapat menikmati pertunjukan dengan aman dan nyaman hingga akhir.

Kepala Desa Darungan, Ibnu Malik, turut hadir dan secara resmi membuka acara. Ia menyatakan apresiasi penuh atas inisiatif warga yang telah menjaga kearifan lokal dengan begitu konsisten. “Wayang kulit ini bukan hanya pertunjukan budaya, tetapi bentuk penghormatan terhadap leluhur. Kami dari pemerintah desa sangat mendukung agar tradisi ini terus hidup dan berkembang,” ujarnya.

Bagi warga Krajan dan Dusun Templek, pagelaran ini lebih dari sekadar hiburan malam. Ini adalah wujud syukur atas kehidupan yang damai, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dalam hidup bermasyarakat. Seperti diungkapkan Kepala Desa, setiap dusun memiliki caranya masing-masing merayakan Suro: ada yang dengan shalawatan, ada pula yang dengan kirab. Namun esensinya satu hidup rukun dalam keberagaman.

Dengan semangat guyub rukun yang terus dipelihara, warga Templek membuktikan bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan kekuatan yang mengakar dan menyatukan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....