Nguri-Uri Budaya Melalui Seni Ukir

  • 21 Mei 2026 20:06 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri: Seni ukir adalah seni yang memadukan estetika atau keindahan dalam setiap ukirannya. Seni ukir juga dianggap sebagai bentuk pelestarian budaya yang masih ada saat ini. Orang jawa menyebutnya "Nguri-uri budaya". Seperti disampaikan Mochammad Sugianto, pelaku UMKM seni ukir dari Kediri, kepada RRI, Kamis, 21 Mei 2026, yang berhasil menjadikan seni ukir menjadi karya seni tak lekang jaman..

"Melalui seni ukir kami bisa melestarikan budaya. Permintaan akan produk ukir yang seringkali memadukan dengan budaya kejawen membuat seni ukir bernilai filosofis tinggi," kata Sugianto.

Menjaga nilai leluhur melalui pahatan demi pahatan, membuat Sugianto menyadari bahwa seni ukir harus dikembangkan. Melestarikannya berarti menjaga identitas budaya dari kepunahan di era modernitas. Di samping sebagai bentuk penguatan sokongan ekonomi kerakyatan bagi masyarakat.

"Nilai jualnya tinggi, karena bahannya mahal, prosesnya pun tidak mudah. Apalagi kalau dikerjakan manual dna permintaan desainnya ada pakem yang tidak bisa diganti. Kalau pakai alat cetak gampang tapi feelnya kurang dapat. Dan biasanya kami menyarankan kepada konsumen untuk menggunakan kayu jati atau mahoni yang lebih tahan lama alias awet dan kokoh," ucap Sugianto.

Ia bersama kawan-kawan di Disabilitas Kediri Tangguh (DIKTA) juga sering melakukan promosi untuk mengenalkan seni ukir. Tidak hanya di wilayah Kediri tetapi juga luar kota, supaya masyarakat mengetahui bahwa di Kediri memiliki UMKM yang siap naik kelas. Seni ukir sebagai simbol kearifan lokal juga selalu menjadi motto bisnis yang terus digaungkan.

"Kalau bukan kita siapa lagi. Di kediri tidak banyak yang berbisnis seni ukir. Kami selalu jadi jujugan atau langganan. Kami juga tidak merasa hebat karena setiap hari belajar memberikan produk terbaik dan supaya konsumen menaruh kepercayaan kepada kami dengan baik,"ujarnya.

Meski telah menjadi komoditas pasar yang banyak dicari, pengrajin seni ukir belum melihat banyaknya minat masyarakat dalam menekuninya. Padahal menurut Sugainto, seni ukir bisa menjadi media pendidikan dan regenerasi bagi generasi muda.

"Minat untuk jadi pelaku masih sepi. Sedikit sekali. Mungkin karena seni ukir itu sulit dan dibutuhkan ketelatenan dalam pengerjaannya. Kalau alat gampang, bahan juga banyak," ujarnya.

Sugianto berharap, dukungan pemerintah daerah terua ada. Sehingga seni ukir tidak akan ditinggalkan dan bisa menjadi komoditas ekspor di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....