Bulan Ramadan, Permintaan Sarung Goyor Jombang Meningkat
- 28 Feb 2026 18:37 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang — Momentum Ramadan 1447 H, membawa peningkatan permintaan sarung tenun goyor produksi perajin di Dusun Pengaron, Desa Pengaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.
Kebutuhan masyarakat menjelang Idulfitri mendorong lonjakan pesanan, baik dari pasar lokal maupun luar daerah, sehingga aktivitas produksi mengalami peningkatan dibandingkan hari biasa.
Salah satu pemilik usaha sarung tenun goyor di Desa Pengaron, Siti Khoirul Uma, mengungkapkan bahwa permintaan sarung pada Ramadan tahun ini meningkat cukup tajam.
“Selama bulan puasa ini pesanan naik drastis, bahkan bisa dua kali lipat lebih dibandingkan hari normal. Banyak permintaan yang harus selesai sebelum Lebaran,” ujarnya, Sabtu, 28 Februari 2026.
Menurutnya, pesanan tidak hanya datang dari wilayah sekitar Jombang, tetapi juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kebanyakan pembeli berasal dari pondok pesantren dan sejumlah instansi. Sarung biasanya digunakan sebagai hadiah Lebaran bagi santri maupun karyawan,” jelasnya.
Meningkatnya jumlah pesanan membuat para perajin harus menambah jam kerja agar proses produksi tetap berjalan sesuai jadwal pengiriman.
“Kalau biasanya pekerjaan selesai sore hari, sekarang sering berlanjut sampai malam karena jumlah pesanan cukup banyak,” katanya.
Ia menambahkan, proses pembuatan sarung tenun goyor membutuhkan ketelitian tinggi dan tidak dapat dilakukan secara cepat. Setiap lembar sarung rata-rata diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga hari, tergantung tingkat kerumitan motif serta kondisi cuaca saat proses pengeringan benang berlangsung.
“Cuaca sangat berpengaruh. Saat panas produksi lebih cepat, tetapi kalau sering hujan, pengeringan benang memakan waktu lebih lama,” tuturnya.
Sarung tenun goyor dipasarkan mulai kisaran Rp250.000 per potong. Produk ini dikenal memiliki karakter kain yang nyaman digunakan karena mampu menyesuaikan suhu, serta memiliki motif yang sama pada kedua sisi kain sebagai ciri khas hasil tenun manual.
Sementara itu, salah satu pembeli, Fitriyah Indriyani, mengatakan bahwa sarung tenun goyor asal Jombang memiliki bahan yang nyaman digunakan serta motif khas yang membedakannya dari produk pabrikan lainnya.
“Biasanya kalau mau menjelang lebaran kita memang pesan juga untuk dibagi-bagi buat parsel ke saudara-saudara. Bahannya itu kalau kata suami sama anak saya enak, adem, dan unik. Jadi kalau cuacanya lagi panas sarungnya bisa bikin dingin, tapi kalau cuacanya lagi dingin bisa bikin hangat,” ucapnya.
Peningkatan permintaan selama Ramadan tidak hanya berdampak pada pendapatan perajin, tetapi juga menjadi dorongan bagi keberlangsungan kerajinan tenun tradisional di Kabupaten Jombang agar tetap bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....