Yuli Ubah Batok Kelapa Jadi Produk Bernilai Manfaat
- 17 Jun 2025 19:48 WIB
- Kediri
KBRN, Kediri: Yuli Setyowati, pelaku UMKM asal Desa Grogol, Kediri, mengubah limbah batok kelapa menjadi produk bernilai jual. Dalam dialog Kentongan RRI, Selasa (17/6/2025), ia menyebut usahanya berawal dari keprihatinan melihat limbah yang tak dimanfaatkan warga.
Kini produknya tembus pasar Asia, meski menghadapi kendala bahan baku dan harga jual rendah. Untuk menyiasatinya, Yuli menawarkan jasa parut kelapa saat hajatan warga agar bisa membawa pulang batoknya.
Usaha ini bermula dari keprihatinan Yuli akan banyaknya batok kelapa yang tidak dimanfaatkan oleh warga sekitar. Dua dekade lalu, ia mulai mencoba membuat produk sederhana dari batok kelapa.
Dari sendok, mangkuk, hingga gantungan kunci, karyanya semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Kini, lebih dari puluhan jenis produk telah ia hasilkan.
“Awalnya kami coba-coba saja, karena batok kelapa di sini banyak dan tidak ada yang memanfaatkan. Lama-lama jadi sumber penghasilan utama keluarga,” ujarnya dalam dialog Kentongan pada Selasa (17/06/2025).
Namun, perjalanan selama 20 tahun ini bukan tanpa tantangan. Bahan baku yang dulunya melimpah, kini semakin sulit didapat. Harga batok kelapa pun mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Untuk menyiasatinya, Yuli dan suami berinisiatif menawarkan jasa memarut kelapa saat ada hajatan warga. Dengan cara itu, mereka bisa mendapatkan batok kelapa tanpa harus membeli mahal.
“Kami kerja sama dengan warga. Kalau ada hajatan, kami bantu parut kelapanya, nanti batoknya kami bawa pulang untuk diolah,” tambahnya.
Meski menghadapi keterbatasan bahan baku dan tingginya biaya produksi, Yuli tetap konsisten mengembangkan usahanya. Bahkan, beberapa produknya sudah diekspor ke negara-negara Asia seperti Hongkong dan Korea. Namun, ia mengaku masih menghadapi kendala dalam hal harga jual yang belum sebanding dengan proses produksi yang memakan waktu dan tenaga.
“Prosesnya panjang, mulai dari pembersihan, pengeringan, pemotongan, sampai finishing. Tapi harganya sering kali tidak sebanding dengan kerja keras kami,” keluhnya.
Meski demikian, semangatnya untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha ini tidak surut. Ia berharap ada dukungan lebih dari pemerintah dan masyarakat agar produk kerajinan berbasis limbah seperti miliknya bisa terus berkembang, sekaligus menjadi contoh pemanfaatan limbah yang kreatif dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....