Digital Marketing, Peluang atau Sekedar Tren?

  • 20 Jul 2026 12:14 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Digital marketing adalah proses pemasaran suatu produk barang atau jasa secara daring menggunakan kecanggihan teknologi dan pemanfaatan internet. Saat ini digital marketing banyak merambah melalui media sosial dan penggunaan AI yang tidak terpisahkan guna mendukung strategi marketing yang berdaya tarik dan jual. Namun ditengah fenomena ini, muncul pertanyaan apakah digital marketing dianggap peluang atau justru sekedar ikut tren saja?

Setiap pebisnis atau pelaku usaha tentu menginginkan omset besar ketika mereka menerapkan strategi marketing yang tepat. Digital marketing bukan hanya sekedar tren yang hadir di tengah digitalisasi, tetapi sudah menjadi kebutuhan semua orang. Peluangnya besar, menjangkau market yang luas, omset pun akan mengikuti dengan semakin tingginya jangkauan pasar bisnis.

Rendra Hidayaturrahman, Event Specialist Lokakarsa, kepada RRI, Senin, 20 Juli 2026, mengatakan bahwa digital marketing adalah kunci untuk pelaku bisnis menawarkan produk terbaiknya. Terlebih para pelaku ekonomi kreatif, yang mampu memanfaatkan digital marketing dengan optimal, selain membangun networking atau kolaborasi.

"Ekraf itu peluang struktural. Digital itu alatnya. Kalau keduanya bisa tumbuh beriringan bukan tidak mungkin para pelaku bisnis meraup untung besar, karena jangkauan pengenalan produk mereka juga luas. Apalagi sekarang motode affiliate banyak dipakai masyarakat. Itu peluang uang perlu diambil," ucap Rendra.

Rendra meyakini, digital marketing akan terus berevolusi seiring perkembangan teknologi. Kehadiran AI, otomatisasi, dan data analytics tidak akan menggantikan peran pemasar, melainkan memperkuatnya. Yang akan bertahan adalah para pelaku bisnis yang memahami prinsip dasar digital marketing seperti pemahaman atas audiens, mampu memberikan solusi, dan menjaga kepercayaan konsumen.

" Tools bisa berubah, tapi prinsip tidak," ujarnya.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) atau e-commerce di Indonesia mencapai Rp 1.288,93 triliun pada 2024. Angka ini mencakup transaksi pada marketplace sebesar Rp 203,58 triliun dan non-marketplace yakni melalui media sosial/aplikasi instan sebesar Rp 1.085,35 triliun.

Di sisi lain, tantangan terbesar digital marketing adalah kenaikan biaya iklan dan perubahan algoritma. Laporan dari lembaga riset eMarketer 2025 mencatat biaya iklan digital di Asia Tenggara naik rata-rata 18% dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini memaksa para pelaku usaha untuk lebih mengandalkan konten organik, email marketing, dan community building sebagai strategi jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....