UMKM, Tulang Punggung Ekonomi yang Butuh Dukungan Global

  • 29 Jun 2026 00:11 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- UMKM adalah tulang punggung yang butuh dukungan dunia. Tidak bisa berjalan sendiri, diperlukan bantalan yang kuat untuk bertahan di tengah gempuran zaman. Seperti pada tanggal 27 Juni, di mana dunia memperingati Micro-, Small and Medium-sized Enterprises Day atau Hari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Sedunia. Peringatan ini bukan seremoni biasa, melainkan pengakuan PBB atas peran 90% pelaku usaha dunia yang menyerap 60-70% tenaga kerja dan menyumbang 50% Produk Domestik Bruto global.

Dikutip dari Resolusi PBB A/RES/71/279, Hari UMKM Sedunia lahir dari Deklarasi International Council for Small Business di Konferensi Tahunan ke-61 PBB. Argentina kemudian membawa usulan ini ke Majelis Umum PBB, yang pada 6 April 2017 mengesahkan Resolusi A/RES/71/279. Resolusi itu disponsori 54 negara yang mewakili lebih dari 5 miliar penduduk. Indonesia termasuk 11 negara inisiator bersama Menteri Koperasi dan UKM saat itu, AAGN Puspayoga. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran publik atas kontribusi luar biasa UMKM terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.

Dilansir dari International Labour Organization (ILO), PBB memproyeksikan butuh 600 juta lapangan kerja baru hingga 2030, dan UMKM adalah penyedia kerja utama bagi pendatang baru di pasar tenaga kerja. UMKM dianggap sebagai "detak jantung ekonomi". Secara global mereka mencakup 90% total bisnis, menyerap 60-70% lapangan kerja, dan berkontribusi 50% PDB dunia.

Di negara berkembang UMKM juga berperan besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Seperti di Indonesia, data laporan Kementerian UMKM pada tahun 2024, menyebut, sekitar 57 juta pengusaha UMKM Indonesia berkontribusi sebesar 60,5 persen terhadap PDB, menyerap 97 persen tenaga kerja, serta menyumbang 15,7 persen terhadap total ekspor nasional.

Meski jadi penyangga ekonomi, UMKM nyatanya masih menghadapi berbagai tangangan. Inflasi, gangguan rantai pasokan, krisis kesehatan seperti covid 19, proses penerbitan ijin, hingga konflik, membuat UMKM paling rentan terdampak. Begitu juga soal aksea keuangan atau modal usaha yang diikuti dengan jaringan pasar yang tidak selalu mulus.

Pemerintah ikut mendorong UMKM agar "future-ready" lewat teknologi, praktik inovatif, dan ekonomi sirkular. Gerakan kampanye dukung UMKM agar naik kelas tidak cukup. UMKM yang hebat adalah UMKM yang kuat. Penguatan tersebut dapat dipenuhi melalui berbagai sumber dukungan pemerintah dan masyarakat sekitar.

UMKM naik kelas berarti usaha tersebut bertransformasi dari sekedar bertahan hidup menjadi usaha yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu menembus pasar yang lebih luas. Hari UMKM Sedunia tahun 2026, mengangkat tema Memberdayakan UMKM melalui Inovasi dan Pembangunan Industri Berkelanjutan. Tanpa kebijakan pembiayaan, dan pasar yanga adil, SDGs akan sulit tercapai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....