Pengrajin Emping Blinjo Kediri Panen 'Cuan' Saat Lebaran

  • 01 Apr 2025 15:38 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Pada momentum Lebaran 1446 H, omzet pengrajin emping blinjo di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri merasakan panen cuan (uang, red).

Seperti yang terlihat di sentra produksi emping blinjo milik Siti Maimunah, warga Kelurahan Pare, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Pada Selasa (1/4/2025), perempuan lanjut usia yang akrab disapa Munah mengaku terus bersemangat untuk berkarya melalui emping blinjo. Bahkan, setiap tahunnya pada bulan Ramadan hingga mendekati Lebaran, pendapatannya seolah menggunung.

"Untuk memenuhi permintaan pasar, saya memberdayakan tetangga, sanak saudara, maupun kerabat dekat. Khususnya mereka yang membutuhkan penghasilan tambahan, untuk berkenan membantu memproduksi emping blinjo secara manual," kata Munah.

Di tempat ini, Arifin, salah satu pekerja di rumah produksi emping blinjo milik Siti Maimunah, menceritakan, sudah bergelut dengan biji emping blinjo selama 20 tahun lebih.

"Awal bekerja dengan Bu Siti Maimunah, saya mendapat tugas untuk menumbuk biji blinjo, dan membentuknya menjadi emping. Tepatnya, dalam satu bulatan ukuran emping blinjo ini, terdapat pola berbeda dan ditumbuk memakai alat khusus, di antaranya bekas leker dari kendaraan roda empat, seperti truk atau bus," kata Arifin.

Pria berusia senja ini mengemukakan, ketika membuat emping blinjo untuk ukuran besar, maka dalam satu bulatan itu terdiri dari 8 biji blinjo yang ditumbuk, sedangkan untuk emping ukuran kecil, hanya membutuhkan sekitar 3 biji blinjo yang ditumbuk.

Kemudian, saat mendekati Lebaran tahun 2025, permintaan pasar di Kediri hingga luar kota, terhadap emping blinjo mengalami peningkatan signifikan.

"Mayoritas masyarakat membeli emping blinjo buatan Siti Maimunah, untuk kebutuhan camilan di rumah, atau sebagai suguhan tamu ketika datang berkunjung saat Idul Fitri, maupun sewaktu mereka ada acara arisan keluarga," kata Munah, yang kini berusia 65 tahun.

Dari catatan penjualannya, Munah menyebutkan, sejak pertengahan bulan Ramadan ini, penjualan emping blinjo di rumahnya, meningkat menjadi 200 bungkus per hari. Padahal, bulan normal, penjualannya berada di posisi 100an bungkus per hari.

Sebagai generasi kedua dari usaha emping blinjo di keluarganya ini, Siti Maimunah mengaku, hingga sekarang, permintaan pasar emping blinjo miliknya telah meluas hampir di berbagai wilayah di Tanah Air. Mulai dari Kediri Kabupaten/Kota, Surabaya, Malang, Jakarta, Samarinda.

"Sempat juga pada beberapa tahun lalu, juga sempat ada konsumen asal Singapura yang memborong produk emping blinjo saya ini," katanya.

Saat ini, pada umumnya para pembeli ada yang datang langsung ke rumah produksinya di Jalan Ijen, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, dan ada sebagian dari mereka yang beli dengan menitipkan ke sanak saudaranya. Tak hanya itu, ada yang memesan lewat online, dan minta dikirim menggunakan jasa kurir.

Seperti yang dikatakan, Musrifah, tetangga dari Siti Maimunah, yang sering membeli emping blinjo dengan rasa udang manis. Bahkan terkadang, ia juga meminati emping blinjo dengan rasa tawar atau tanpa rasa.

Sampai sekarang, varian emping blinjo miliknya, antara lain, Blinjo tuk, Blinjo tiga tiga, dan blinjo Seker. Adapun harga yang ditawarkan mulai dari Rp 45.000 per kemasan hingga Rp 60.000 per kemasan.

Sementara itu, terkait pemenuhan bahan baku emping blinjo, Siti Maimunah melanjutkan, hingga sekarang ia selalu mendatangkan dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti di Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, hingga dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sebab, seiring perkembangan pembangunan di Kediri, maka sekarang ini mulai jarang ada masyarakat yang menanam pohon blinjo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....