Kandang Kebo Dorong Generasi Muda Rawat Warisan Budaya

  • 26 Agt 2026 17:49 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Komunitas Kandang Kebo Yogyakarta terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian warisan budaya. Tidak hanya berkegiatan di lapangan, komunitas ini juga berupaya memperkenalkan cagar budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan minat dan kemampuan generasi muda.

Ketua Komunitas Kandang Kebo, Maria Tri Widayati, mengatakan anggotanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pelajar SMP dan SMA. Anggota komunitas paling banyak berada pada rentang usia 25 hingga 40 tahun, meski sebagian lainnya berusia di atas 40 tahun.

“Kita selalu membuka. Syukur-syukur malah yang anak-anak yang masih kecil-kecil itu kita ajak. Komunitas Kandang Kebo itu muda-muda. Ada mahasiswa, anak-anak SMP, SMA juga ada,” kata Maria.

Menurut Maria, perkembangan teknologi menjadi peluang besar bagi generasi muda untuk ikut melestarikan warisan budaya. Kemampuan tersebut dinilai dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya dengan cara yang lebih kreatif tanpa mengubah atau merusak objek budaya yang dilindungi.

“Harapan saya, mereka mau melestarikan warisan budaya dengan kemampuan teknologi yang mereka punya,” ujarnya kepada RRI, Selasa, 25 Agustus 2026.

Ia berharap teknologi dapat menjadi sarana untuk mengembangkan berbagai upaya pelestarian dengan tetap menjaga keaslian warisan budaya.

Kandang Kebo sendiri tidak hanya membahas cagar budaya berupa benda atau bangunan, tetapi mulai memperluas perhatian pada warisan budaya tak benda. Salah satunya melalui pembahasan tentang keris yang tidak hanya dikaitkan dengan sisi mistis, tetapi juga teknologi dan pengetahuan yang ada di balik pembuatannya.

Maria mengatakan pendekatan tersebut dilakukan agar warisan budaya dapat lebih mudah diterima oleh anak muda. “Kalau di Kandang Kebo justru kita arahkan bagaimana keris itu bisa diterima oleh anak muda dengan tidak melihat ke mistisannya, tapi lebih ke teknologinya,” jelasnya.

Upaya mendekatkan budaya kepada generasi muda juga dilakukan melalui kegiatan lapangan dan edukasi yang digelar setiap tiga bulan. Kegiatan tersebut gratis bagi peserta dan menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya, termasuk sejumlah profesor dan doktor.

Di tengah berbagai kegiatan tersebut, Maria mengakui regenerasi menjadi salah satu perhatian utama komunitas. “Kekhawatiran saya itu, karena nanti kalau saya sudah nggak ada, apakah masih ada yang meneruskan atau hanya tinggal sebuah nama,” ucapnya.

Karena itu, ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi peserta, tetapi kelak mampu menjadi penerus gerakan pelestarian warisan budaya di Yogyakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....