Metri Bumi, Tradisi Sedekah Bumi Warga Trenggalek
- 22 Agt 2026 08:22 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Pemerintah Kabupaten Trenggalek baru saja menggelar acara tradisi Metri Bumi (Merti Bumi) pada Kamis, 20 Agustus 2026, di Taman Kili-Kili dan sumber air Kedungdowo Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul. Tapi tahukah anda apa itu Metri Bumi?
Tradisi ini telah turun temurun menjadi agenda tahunan bagi warga Trenggalek. Metri Bumi bukan sekedar budaya yang sudah mengakar, lebih dari itu, ia menjadi bentuk kepedulian dan simbol masyarakat terhadap keberlangsungan kelestarian alam.
Hubungan antara manusia dan alam semesta dimaknai sebagai ikatan yang tidak terpisahkan dan saling mendukung satu sama lain. Dikutip dari akun resmi Pemkab Trenggalek, metri bumi merupakan upacara adat yang berfokua pada ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta kepedulian nyata terhadap lingkungan. Salah satu yang dapat dilakukan supaya bumi tetap lestari adalah menjaga sumber mata air dan penanaman pohon.
Menurut Bupati Trenggalek, Muhammad Nur Arifin, ketergantungan Trenggalek terhadap alama semesta terlihat dari struktur perekonomian daerahnya, yang masih bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, industri pengolahan, dan pariwisata. Hal tersebutlah yang membuat Trenggalek kaya, subur, dan makmur.
Metri bumi dapat dilakukan pada saat pasca panen raya, musim paceklik selesai, atau bertepatan pada 1 Suro dalam kalender Jawa. Metri bumi berasal dari kata Metri atau Memetri atau Mitoni Bumi, dalam bahasa Jawa, yang artinya memelihara bumi untuk keutuhan dan keberlangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya termasuk manusia.
Tradisi Metri Bumi melibatkam tokoh adat, tokoh agama, atau sesepuh, hingga pemerintah daerah. Rangkaian metri bumi biasanya diawali dengan kirab hasil bumi, doa bersama, dan diakhiri dengan kenduri/makan bersama. Di sisi lain terdapat juga adat nyekar atau tabur bunga di petilasan atau makam leluhur desa. Di Trenggalek, sesaji dalam metri bumi yang berisi ayam ingkung, kepala kambing/kerbau, hasil bumi, dan tumpeng, biasa dilarung di area sumber air sebagai bentuk penghormatan.
Pada Metri bumi juga tersimpan nilai-nilai gotong royong. Warga berkumpul bersama, duduk lesehan, dan menikmati hidangan bersama yang telah didoakan oleh sesepuh. Tujuannya menumbuhkan rasa persaudaraan, toleransi, dan ikatan sosial atau solidaritas yang kuat antar sesama. Mengutip dari catatan Kemendikbud, dalam buku Warisan Budaya Tak Benda, doa bersama dan tumpeng menjadi simbol penyerahan diri dan permohonan agar bumi terus menjadi berkah dna menjaga manusia yang tinggal membersamainya.
Nilai ekologinya adalah "jika kita merawat bumi, maka bumi akan merawat kita". Kirab hasil bumi juga mengingatkan pentingnya menjaga kesuburan tanah yang ditinggali dan menjadi sumber penghidupan. Di era modern ini, metri bumi masih terus dijaga oleh masyarakat Trenggalek. Metri bumi menjadi warisan yang hatus dikenalkan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....