Disbudpar Jatim Apresiasi Suran Agung Pendopo Ndalem Dewobroto Kediri

  • 30 Jun 2026 04:52 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur mengapresiasi penyelenggaraan Suran Agung di Pendopo Ndalem Dewobroto, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Senin malam, 29 Juni 2026. Tradisi tahunan yang digelar untuk menyambut Bulan Suro dalam penanggalan Jawa ini, dinilai sebagai pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas kearifan lokal.

Kepala Bidang Kebudayaan (Kabid) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Sadari menyampaikan dalam UU No.5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan terdapat empat pilar. Yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan serta pembinaan dan kebudayaan ada tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud.

“Alhamdulillah, Mas Bimo (KRA Bimo Dewobroto Hadiningrat) dengan Ndalem Dewobrotonya sudah menjalankan itu semua (empat pilar),” ujarnya. Sementara Ketua Perkumpulan Budaya dan Seni Ndalem Dewobroto, Kanjeng Raden Arya (KRA) Bimo Dewobroto Hadiningrat mengatakan acara Suran Agung tahun 2026 merupakan tahun ke-10.

“Ndalem Dewobroto mengadakan acara Purnomo Bodro sebagai ucapan terima kasih dari keluarga besar kami dengan cara seperti ini. Awalnya pagi tadi ada jaranan, tumpeng sajodo (sepasang) yaitu tumpeng laki-laki (kerucut) dan tumpeng wadon (wujudnya terbalik) yang berisi segala sesuatu yang sudah matang,” ujarnya.

Ia menambahkan tumpeng lanang menggambarkan sebagai orang tua laki-laki dan tumpeng wadon sebagai orang tua perempuan. “Jadi adanya kita itu dari bapak ibu atau leluhur, itu yang menjadi konsep dasar Ndalem Dewobroto untuk memaknai setiap Suran ini, ketawaduan terhadap orang tua dan para leluhur,” ucapnya.

Kegiatan lainnya dalam Suran Agung ada caos dahar, mendoakan para leluhur dan jamasan pusaka seperti keris dan lainnya. “Pesan saya, sebenarnya budaya Jawa itu sangat luar biasa, saya tidak memberi kesan Suran itu sebuah acara yang mistik, melainkan acara kita bersukacita dan bergembira,” ujarnya.

Sadari menambahkan saat ini Jawa Timur mempunyai 158 warisan budaya tak benda yang sudah ditetapkan melalui Kementrian Kebudayaan. “Kemudian kita sudah punya warisan budaya yang ditetapkan dunia ada Keris, Wayang, Batik, Gamelan, Reog, dan tahun ini yang kita perjuangkan adalah tempe dan jaranan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....