Sisi Manajemen Keuangan: FOMO Picu Defisit Ekonomi Rumah Tangga
- 29 Jun 2026 14:06 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Ketidakmampuan masyarakat dalam membentengi diri dari paparan tren belanja digital berbasis FOMO (ketakutan akan tertinggal) memicu risiko besar terhadap stabilitas ekonomi skala domestik. Evi Nur Safitri, M.E., sebagai Dosen Manajemen Universitas Bahauddhin Mudhari, Madura, memaparkan kebiasaan berbelanja hanya karena takut dicap ketinggalan zaman menjadi pemicu utama jebolnya anggaran keluarga.
“Perbedaan mendasar antara konsumen yang bijak dengan konsumen yang terjebak FOMO terletak pada dasar pengambilan keputusan finansial mereka yang tidak lagi melihat aspek fungsi, manfaat, dan skala prioritas,” ucapnya.
Evi mengatakan kondisi ekonomi rumah tangga akan menghadapi ancaman serius berupa pengeluaran bulanan yang tidak menentu dan cenderung membengkak secara fluktuatif. Ketika pengeluaran untuk barang-barang sekunder dan tersier yang sifatnya impulsif terus dilakukan, ketidakseimbangan antara total pendapatan dan total pengeluaran pasti akan terjadi. Jika dibiarkan berlarut-larut, ketimpangan neraca keuangan ini tidak hanya merusak arus kas tetapi juga memberikan tekanan psikologis yang berat bagi anggota keluarga.
"Dari sisi ekonomi rumah tangga, terus-menerus mengambil keputusan finansial berdasarkan dorongan FOMO akan mengakibatkan pengeluaran tidak menentu. Kita akan melihat sisi pendapatan menjadi tidak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran, yang pada akhirnya nanti pasti berdampak juga ke sisi psikologis anggotanya," katanya.
Guna mengantisipasi terjadinya defisit berkepanjangan pada kas keluarga, ia mengimbau untuk penguatan literasi keuangan yang kini menjadi instrumen mutlak yang harus dimiliki oleh setiap kepala keluarga maupun generasi muda. Memiliki perencanaan anggaran belanja yang ketat serta mengalokasikan pos khusus untuk dana darurat adalah langkah proteksi awal.
Literasi belanja yang baik akan bertindak sebagai rem darurat yang membatasi seseorang agar tidak mudah tergiur oleh rekomendasi influencer maupun konten video yang viral. "Punya anggaran belanja dan menyiapkan dana darurat itu sangat penting di era sekarang. Literasi belanja itu adalah sebuah rem untuk membatasi kita dalam berbelanja, agar keuangan tetap sehat," katanya.
Evi juga menyampaikan strategi praktis yang dideklarasikan untuk menyelamatkan ekonomi keluarga adalah dengan menerapkan formula penundaan transaksi selama 1x24 jam. Ketika melihat suatu barang yang sedang viral atau diskon, konsumen diminta untuk tidak langsung membelinya, melainkan memberikan waktu bagi logika berpikir untuk menilai urgensinya kembali. Menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial riil yang dimiliki adalah kunci mutlak pertahanan ekonomi di era transformasi digital.
"Melihat kebutuhan yang hanya diperlukan saja, kita harus lebih bisa mengesampingkan hal-hal tren tersebut agar pengeluaran tetap terkontrol. Biasakan buat prioritas kebutuhan, mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Terapkan jeda sebelum membeli, misalnya menunda 1x24 jam, serta batasi paparan konten yang konsumtif," tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....