Bulan Suro Momentum Perenungan Diri, Paguyuban Ngajeni Sedulur Ajak Introspeksi

  • 16 Jun 2026 16:04 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri – Bulan Suro dalam penanggalan Jawa dimaknai sebagai momen sakral yang sarat dengan nilai spiritual. Tidak hanya identik dengan tradisi budaya, bulan ini juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan perenungan diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui selama setahun terakhir.

Ketua Paguyuban Ngajeni Sedulur Kediri, Aris Wirianto, Selasa, 16 Juni 2026 menyampaikan bahwa bulan Suro merupakan momen prihatin yang seharusnya dimanfaatkan masyarakat untuk introspeksi diri. Menurutnya, nilai utama dari bulan Suro bukan pada seremoni semata, melainkan bagaimana seseorang mampu mengevaluasi diri.

“Satu Suro itu adalah tanggal kesakralan untuk kita prihatin, bukan kepada orang tapi kepada diri kita untuk perenungan. Merenungi apa yang kita lakukan satu tahun sebelumnya, bagaimana kita bisa instropeksi diri, apakah kita sudah berbuat darma atau karma selama satu tahun,” ujarnya.

Ia menambahkan dalam menyambut 1 Suro, Paguyuban Ngajeni Sedulur Kediri melakukan kegiatan mengheningkan cipta di Situs Purbakala Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Dengan tujuan merenungkan bagaimana tentang baik buruk kehidupan yang sudah dijalani, sedang dijalani dan rencana yang akan dijalani.

“Menurut kepercayaan masyarakat Jawa pada bulan Suro merupakan waktu untuk prihatin untuk diri seseorang. Sehingga tidak diperbolehkan mengadakan acara hajatan seperti mantenan (nikahan) atau sunatan (khitan) karena dalam bulan suro terdapat kesakralan,” ucapnya.

Selain itu pada bulan Suro atau Muharram dalam kalender Islam merupakan momen untuk menghormati meninggalnya cucu Nabi Muhammad SAW. Paguyuban Ngajeni Sedulur Kediri tidak hanya mengadakan kegiatan menyambut bulan Suro, namun pada akhir bulan Suro juga akan mengadakan acara tumpengan atau kesenian bantengan.

Paguyuban memiliki misi untuk mengenalkan dan melestarikan kebudayaan Nusantara dengan visi berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945. Aris mengajak seluruh anggota paguyuban tetap solid dalam kesenian untuk melestarikan budaya yang sudah ada.

“Selama ini paguyuban ngajeni sedulur kediri juga melakukan kegiatan merawat situs, merawat sumber mata air, serta melestarikan cagar budaya dan mencari sejarah yang ada di Nusantara,” katanya. Untuk regenerasi saat ini paguyuban juga merangkul generasi muda untuk berpartisipasi dalam pelestarian seni budaya seperti bantengan.

Aris mengajak kepada generasi muda untuk nguri-nguri (melestarikan) situs sejarah budaya Nusantara, karena benteng terakhir negara adaah budaya. Jika budaya telah rusak, maka juga menjadikan kerusakan pada keseluruhan yang ada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....