Komunitas Wanita Pelestari Sanggul Indonesia Nguri-Uri Budaya Nusantara
- 12 Mei 2026 07:22 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Komunitas Wanita Pelestari Sanggul Indonesia Nguri-Uri Budaya Nusantara
- Nilai spiritual tetap utama dalam pelestarian tradisi dan budaya
RRI.CO.ID, Kediri – Kiprah Komunitas Wanita Pelestari Sanggul Indonesia (WPSI) Kota Kediri dalam nguri-uri (red. melestarikan) tradisi dan budaya Nusantara secara konsisten dilakukan. Hal ini merupakan panggilan jiwa untuk menjaga dan merawat investasi dan aset bangsa yang bagi para anggota adalah satu keniscayaan dan tidak bisa ditawar lagi.
Melalui Program ‘Galeri Komunitas’ Pro 1 Kediri, Tatik Mulyo, Anggota Komunitas WPSI Kota Kediri, Jawa Timur berbagi banyak hal mengenai tekad dan perjuangannya untuk mengambil peran dalam nguri-uri tradisi dan budaya. “Saya lahir di Jawa, besar dan tumbuh di Jawa. Siapa yang melestarikan dan menjaga warisan budaya kalau bukan kita?,” katanya, Senin, 11 Mei 2026.
Menurut perempuan berusia 66 tahun ini, nilai-nilai spiritual tetap harus menjadi yang utama dalam perjalanan melestarikan tradisi dan budaya Jawa. “Allah menganugerahkan kita fisik sempurna dan usia yang panjang, jadi untuk apa kalau tidak kita manfaatkan energi dan sisa waktu yang ada untuk merawat dan melestarikan kekayaan Indonesia,” ujar Tatik, sapaan akrabnya.
Bagi para anggota Komunitas WPSI yang sebelumnya dikenal dengan Paguyuan WBI (Wanita Bersanggul Indonesia), banyak perempuan modern tampil cantik dan anggun dengan bersanggul, namun tidak semua dari mereka memiliki panggilan hati untuk memahami nilai-nilai filosofinya sehingga melahirkan tekad menjaga identitas budaya agar tetap lestari.
Komunitas WPSI Kota Kediri berfokus menjaga jati diri bangsa dengan menjadikan sanggul, kebaya, dan jarik sebagai bagian dari gaya hidup modern, bukan sekedar upacara adat. WPSI turut aktif terlibat dalam serangkaian event seperti Festival dan Parade Budaya, Peringatan Hari Tari Internasional, Aksi Sosial Komunitas, Kirab Pusaka, dan sejumlah kegiatan lainnya.
“Dalam Peringatan Hari Tari Internasional pada bulan April 2026, Alhamdulillah kami berkesempatan menampilkan tarian Jawa sakral di Taman Sari Yogyakarta. Bangga rasanya berada dalam ruang ekspresi yang melibatkan seniman-seniman hebat lintas generasi,” ucap Tatik. Baginya, perjuangan dan pengorbanan WPSI dalam pelestarian budaya tidak main-main.
Di akhir segmen perbincangan, Tatik menyampaikan keinginannya bahwa sanggul dan jarik seharusnya bukan lagi sekedar simbol perempuan zaman dulu yang kaku dan tertinggal, melainkan wujud transformasi dalam bentuk ekspresi cinta tradisi dan budaya yang lebih luwes bersanding dengan berbagai dinamika baru yang lahir di kehidupan era modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....