Etika Tahaddus bin Nikmah: Pamer atau Syukur?
- 26 Mei 2026 07:41 WIB
- Kediri
RRI.CO,ID, Kediri - Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering kali melihat seseorang menunjukkan keberhasilan mereka, mulai dari jenjang pendidikan, karier, kepemilikan rumah, hingga aktivitas ibadah di ruang publik maupun media sosial. Di satu sisi, tindakan tersebut dapat menjadi bentuk ekspresi kebahagiaan, namun di sisi lain berpotensi tipis bergeser menjadi ajang pamer.
Fenomena inilah yang melatarbelakangi pentingnya memahami konsep Tahaddus bin Nikmah, yaitu menampakkan nikmat Allah SWT dengan dilandasi rasa syukur yang mendalam. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qawa'id Tawar Jombang sekaligus Dosen KPI Unhasy, Ahmad Fakhruddin, menjelaskan bahwa perintah untuk menampakkan nikmat ini secara tegas termaktub dalam Al-Qur'an Surat Ad-Duha ayat 11.
Konsep ini menegaskan bahwa setiap nikmat dari Allah SWT memang seharusnya ditampakkan sebagai wujud syukur, bukan disembunyikan. Kendati demikian, penerapannya di tengah masyarakat wajib memperhatikan norma-norma agama agar tidak melenceng dari esensi ibadah.
"Perlu diingat bahwa bersyukur itu tidak hanya ditampakkan dengan ucapan Alhamdulillah di lisan saja, tetapi juga harus diwujudkan melalui perbuatan nyata. Di dalam rasa syukur yang tulus, selalu ada pujian yang kita kembalikan kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah sangat senang melihat bekas nikmat-Nya tampak dan dirasakan oleh hamba-Nya, namun yang kerap menjadi persoalan besar di era modern ini adalah ketika tindakan memperlihatkan nikmat tersebut justru berbelok ke arah riya," ujarnya dalam kajian di RRI, Selasa, 26 Mei 2026.
Lebih lanjut, Ustaz Ahmad membedakan secara tegas batasan antara perilaku riya’ dan Tahaddus bin Nikmah. Menurutnya, sifat riya memilki orientasi mutlak kepada manusia demi mendapatkan pujian atau popularitas. Sebaliknya, Tahaddus bin Nikmah justru lahir dari sikap merendahkan hati di hadapan Allah saat menceritakan atau menunjukkan keberhasilan kepada orang lain.
“Tujuannya tidak lain adalah agar orang yang mendengar atau melihatnya dapat ikut tergerak untuk mensyukuri nikmat yang ada, sehingga masyarakat dituntut bijak dalam mengelola hati,” ucapnya.
Mengingat Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya untuk sangat berhati-hati terhadap bahaya laten riya, Ustaz Ahmad membagikan beberapa adab penting dalam mengomunikasikan nikmat, termasuk saat membuat unggahan di media sosial. “Adab pertama yang paling krusial adalah selalu menyandarkan segala capaian dan postingan tersebut murni atas rasa syukur terhadap pemberian Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri. Adab kedua adalah tidak berlebihan dalam menampakkannya karena hal itu berpotensi memicu kesombongan serta mengundang bahaya penyakit 'ain atau iri dengki dari orang lain,” katanya.
Selanjutnya, adab ketiga yang tidak kalah penting adalah tidak memamerkan nikmat di hadapan orang lain yang belum mendapatkannya dengan cara yang mendesak atau menyudutkan perasaan mereka. Terakhir, seluruh tindakan Tahaddus bin Nikmah harus diniatkan untuk memberikan motivasi positif dan menyebarkan kebaikan bagi sesama. Melalui batasan-batasan etis ini, seorang Muslim diharapkan dapat tetap menjaga hatinya untuk selalu merendah, sekaya atau sesukses apa pun kondisi mereka di dunia.
"Nikmat yang Allah berikan kepada kita semua itu sangat banyak dan tak terhitung, mulai dari kesehatan, keharmonisan keluarga, hingga titipan ilmu. Semuanya bersumber dari Allah, maka sudah semestinya kita syukuri dan jangan sampai jatuh dalam kesombongan. Selalu sandarkan diri kita kepada Allah SWT, setinggi apa pun capaian dan kemampuan yang kita miliki saat ini, agar nikmat tersebut membawa keberkahan, bukan malah menjadi bumerang di akhirat," tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....