Agama Jadi Kompas Kendalikan Gejolak Hawa Nafsu
- 29 Apr 2026 07:10 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Kehidupan manusia pada hakikatnya merupakan panggung pertarungan antara dua sisi yang saling bertolak belakang, yakni akal dan hawa nafsu. Pengasuh Majlis Ta’lim Nur Arofah Kota Kediri, Ustaz Mansur, S.T., M.T., menjelaskan bahwa secara umum manusia cenderung dikuasai oleh hawa nafsu yang selaras dengan peringatan Al-Qur'an bahwa nafsu selalu mengajak pada keburukan.
“Tanpa pengelolaan yang tepat, nafsu akan mendorong manusia untuk hidup tanpa batas dan kekangan, yang pada akhirnya dapat memicu kerusakan tatanan hidup di dunia,” ucapnya dalam kajian Mutiara pagi di RRI, Rabu, 29 April 2026.
Ustaz Mansur mengibaratkan agama sebagai buku panduan (manual book) yang diturunkan oleh Allah SWT untuk memastikan kompleksitas kehidupan di bumi tetap berjalan seimbang. Menurutnya, aturan-aturan dalam agama diciptakan agar dunia tidak rusak akibat keinginan manusia yang tidak terkendali.
“Namun, tantangan utama muncul karena hawa nafsu adalah pihak pertama yang akan selalu menolak setiap batasan atau aturan tersebut, karena nafsu hanya menginginkan kenyamanan tanpa peduli pada nilai benar dan salah. Al-Qur'an hadir sebagai petunjuk dan penjelas untuk membedakan antara yang hak (benar) dan yang batil (salah),” katanya.
Ustaz Mansur memaparkan bahwa hawa nafsu sering kali menjadi celah bagi setan untuk melakukan provokasi di dalam hati manusia. Inilah yang menyebabkan berbagai ritual keagamaan, seperti shalat atau membaca Al-Qur'an, sering kali terasa berat dilakukan. Nafsu secara alami akan menolak kegiatan-kegiatan tersebut karena dianggap membatasi ruang gerak kebebasan manusia.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sifat dasar nafsu adalah mencari keuntungan dan kenyamanan duniawi dengan segala cara, termasuk melanggar etika seperti kejujuran dan kedisiplinan. Nilai-nilai kedisiplinan sering kali dirasakan oleh nafsu sebagai sebuah pengekangan yang tidak menyenangkan. “Sejalan dengan sebuah hadis, jihad atau perjuangan yang paling berat bagi setiap individu adalah memerangi dan mengelola hawa nafsunya sendiri agar tetap berada dalam koridor kebaikan,” katanya.
Tidak hanya dalam aspek agama, aturan-aturan umum di dunia pun sebenarnya memiliki batasan yang secara alami dibenci oleh nafsu. Jika dibiarkan tanpa kendali, nafsu akan terus memprovokasi manusia untuk mengejar ambisi pribadi tanpa batas. Oleh karena itu, kesadaran sebagai seorang muslim untuk menahan hawa nafsu menjadi sangat krusial agar tidak terjerumus pada tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Sebagai solusi dalam menghadapi provokasi batin tersebut, Ustaz Mansur menyarankan agar manusia menggerakkan nafsunya menggunakan kekuatan keimanan dan akal sehat. Meskipun pada awalnya terasa sangat berat, proses pengendalian nafsu dapat dilakukan dengan terus memupuk keistiqomahan di jalan Allah.
Bagi mereka yang merasa sulit menghentikan kebiasaan buruk akibat nafsu, pintu taubat selalu terbuka luas sebagai titik balik untuk memperbaiki logika berpikir dan memperkuat kondisi spiritual. Ia pun kembali menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan ibadah merupakan instrumen utama dalam mengendalikan hawa nafsu di dunia.
Dengan membekali diri melalui ilmu agama yang benar dan konsistensi dalam beribadah, seorang manusia akan mampu mendidik nafsunya agar tunduk pada arahan akal dan keimanan. Hal ini menjadi kunci utama bagi setiap individu untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki serta menjaga keharmonisan hidup selama di dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....