Situs Persada Soekarno Kediri Serukan Manifesto Pendidikan Hati

  • 06 Agt 2026 13:42 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Laju perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sangat pesat kini telah menggeser dominasi kecerdasan intelektual manusia. Menanggapi tantangan zaman tersebut, Situs Persada Soekarno Kediri menggaungkan pentingnya "Manifesto Pendidikan Hati" sebagai solusi mendasar dalam mencetak generasi masa depan yang bijaksana dan berkarakter kuat.

Ketua Harian Situs Persada Soekarno Kediri, Kushartono, menegaskan bahwa istilah "Manifesto" diusung karena adanya keresahan mendasar terhadap sistem pendidikan formal yang selama ini terlalu berfokus pada capaian akademis. Menurutnya, ketika kemampuan otak manusia kini mulai tersaingi oleh efisiensi AI, maka kecerdasan rasa (roso) dan kecerdasan spiritual harus menjadi penggerak utama agar teknologi dimanfaatkan secara bijak.

"Perkembangan AI begitu cepat dan sudah memenuhi ruang hingga bisa mengalahkan kecerdasan otak manusia. Oleh karena itu, kecerdasan rasa dan spiritual ini harus digerakkan. Tiga kekuatan jiwa manusia yaitu cipta, rasa, dan karsa harus seimbang agar kecerdasan emosional dan kepekaan hati menjadi fondasi dalam menghadapi masa depan," ujar Kushartono dalam dialog Ruang public di RRI, Kamis, 06 Agustus 2026.

Kushartono menilai fenomena krisis karakter saat ini—seperti maraknya aksi perundungan (bullying), kemerosotan etika, hingga krisis empati di media sosial—merupakan dampak langsung dari diabaikannya pendidikan hati. Gagasan pendidikan berbasis olah rasa ini sendiri terinspirasi dari jejak sejarah dan nilai-nilai perjuangan Bung Karno sewaktu masa muda di Kediri, yang ditempa dengan ketahanan karakter serta kepekaan sosial yang tinggi.

Penggunaan istilah "Manifesto" lahir dari keresahan mendasar atas fenomena krisis karakter yang marak terjadi saat ini, seperti perundungan (bullying), kemerosotan etika, hingga krisis empati di ruang digital. Kushartono menilai bahwa berbagai masalah sosial tersebut merupakan dampak langsung dari pengabaian pendidikan berbasis olah rasa dan penanaman kecerdasan emosional sejak dini.

Gagasan pendidikan hati ini juga terinspirasi kuat dari jejak sejarah dan tempaan masa muda Bung Karno selama berada di Kediri. Menurutnya, kepemimpinan dan jiwa besar Bapak Proklamator tersebut dibentuk melalui tiga kekuatan jiwa manusia yang selaras, yakni cipta (pikiran), roso (rasa), dan karso (kehendak), di mana kekuatan rasa selalu menjadi pemandu bagi tindakan dan pemikirannya.

Di tingkat sekolah formal, ruang kelas ideal yang menerapkan pendidikan berbasis hati adalah lingkungan belajar yang menyelaraskan kemajuan teknologi digital dengan penjagaan moralitas. Sekolah diharapkan tidak hanya mengasah akal (cipto), melainkan juga memberi ruang bagi pengolahan rasa (roso) dan kehendak berbuat baik (karso) bagi seluruh peserta didik.

Kushartono mengajak seluruh elemen masyarakat dan warga Kediri untuk bersama-sama merawat semangat Manifesto Pendidikan Hati. "Mari kita jadikan pendidikan hati ini sebagai gerakan bersama. Di tengah gempuran teknologi, manusia yang tetap bernilai adalah manusia yang memiliki hati, empati, dan pegangan moral yang kokoh untuk bangsa," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....