Guru Pembimbing Khusus Bukan Shadow Teacher, Ini Bedanya

  • 11 Jul 2026 14:55 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Di balik terselenggaranya pendidikan inklusif di sekolah, terdapat sosok Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang berperan memastikan setiap anak berkebutuhan khusus (ABK) memperoleh layanan pendidikan sesuai kebutuhannya. Tidak hanya mendampingi peserta didik, GPK juga menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI), memberikan pendampingan kepada guru kelas, hingga menjembatani komunikasi dengan orang tua agar proses belajar berjalan optimal.

Guru Pembimbing Khusus Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri sekaligus guru SMPN 3 Kras Kabupaten Kediri, Teddy Indra Kusuma, S.Psi, menjelaskan bahwa tugas GPK berbeda dengan shadow teacher. Menurutnya, GPK lebih berfokus pada proses pembelajaran dan penyesuaian kurikulum bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

"GPK berbeda dengan shadow teacher. Penekanannya lebih kepada proses pembelajaran, termasuk menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI). Kurikulum untuk anak inklusi juga berbeda dengan sekolah reguler sehingga GPK harus memiliki kesiapan mental, pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi dalam berbagai kondisi," ujarnya dalam dialog di RRI, Sabtu, 11 Juli 2026.

Teddy menambahkan, menjadi GPK tidak bisa dilakukan oleh sembarang guru. Profesi tersebut membutuhkan karakter yang kuat serta kemampuan beradaptasi dengan beragam kondisi peserta didik. Karena itu, GPK harus melalui pembekalan agar mampu memberikan layanan yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Sementara itu, Guru Pembimbing Khusus Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri yang juga Guru TK Cokroaminoto Pare, Nur Kholivah, S.Pd, mengatakan bahwa peran GPK di jenjang PAUD dan TK dimulai sejak tahap identifikasi kebutuhan anak. Setelah itu, GPK menyusun pedoman pembelajaran inklusi dan PPI (Program Pembelajaran Individual) yang selanjutnya menjadi acuan guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran.

"GPK juga menjadi koordinator bagi guru-guru lain karena tidak semua kelas yang memiliki anak inklusi didampingi GPK. Kami membantu menyebarkan pemahaman mengenai cara memberikan perlakuan yang tepat kepada anak berkebutuhan khusus," katanya.

Penyusunan PPI, lanjut Nur, selalu diawali dengan koordinasi bersama orang tua. Informasi dari keluarga, hasil observasi guru, serta asesmen psikolog menjadi dasar penyusunan program pembelajaran. Teddy mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru muncul pada anak dengan kecerdasan istimewa atau berbakat yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata.

"Anak dengan kecerdasan istimewa membutuhkan kurikulum khusus. Jumlah soal maupun tingkat kesulitannya perlu disesuaikan agar potensi mereka berkembang secara maksimal," jelas Teddy.

Selain itu, GPK juga berperan mengedukasi orang tua mengenai ragam kebutuhan khusus yang tidak selalu berkaitan dengan autisme atau ADHD. Nur menuturkan, di jenjang PAUD masih banyak anak yang mengalami hambatan perkembangan sensori sehingga membutuhkan stimulasi yang tepat.

"Banyak orang tua lebih fokus pada kemampuan calistung untuk persiapan masuk SD, padahal kebutuhan sensori anak juga harus dituntaskan. Anak yang sulit dikendalikan di kelas belum tentu karena gangguan perilaku, tetapi bisa jadi perkembangan sensorinya belum matang," ungkapnya.

Dalam membangun hubungan dengan peserta didik berkebutuhan khusus, Teddy menekankan pentingnya membangun kepercayaan terlebih dahulu. Menurutnya, informasi mengenai kebutuhan anak terkadang belum sepenuhnya terungkap saat proses penerimaan peserta didik. "Kami menggali informasi dari orang tua mengenai kebiasaan anak, perlakuan yang sudah diberikan, hingga penanganan sebelumnya. Pendidikan individual tetap dijalankan, tetapi harus tetap menjaga suasana belajar yang nyaman bagi seluruh peserta didik," tuturnya.

Nur menambahkan, di jenjang PAUD dan TK proses bonding dilakukan melalui kelas individual atau one by one class sebelum anak mengikuti pembelajaran reguler. Pendekatan tersebut bertujuan membangun kedekatan, melatih kemandirian, sekaligus mempersiapkan kemampuan bersosialisasi anak. "Sebelum masuk kelas bersama teman-temannya, kami menyediakan waktu khusus untuk membangun kedekatan dengan anak. Dari proses itulah kami memahami kebutuhan mereka sehingga layanan pendidikan inklusif dapat berjalan lebih optimal," tambahnya.

Di balik berbagai keberhasilan pendidikan inklusif, peran Guru Pembimbing Khusus sering kali tidak terlihat oleh publik. Namun, selain itu ada beberapa pihak juga yang ikut mensukseskan pendidikan inklusif di sekolah yaitu oang tua dan siswa itu sendiri. Jadi Kerjasama antara tiga peran ini yang nantinya berhasil mewujudkan pendidikan inklusif di segala tingkatan pendidikan inklusif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....