KKG GPK Kediri Soroti Pentingnya Deteksi Dini Bullying pada ABK
- 13 Jun 2026 12:56 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Kasus perundungan (bullying) terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di lingkungan sekolah saat ini dinilai masih sangat mengkhawatirkan karena sifatnya yang kerap tidak terlihat oleh orang lain. Ironisnya, banyak siswa sebagai pelaku perundungan tidak menyadari bahwa ucapan, tindakan, maupun tulisan yang mereka buat sudah masuk dalam kategori perundungan.
Fenomena miris ini terjadi di berbagai jenjang sekolah, di mana tameng kata "bercanda" kerap dijadikan pembelaan atas perilaku salah tersebut. Ketua Kelompok Kerja Guru Pendamping Khusus (KKG GPK) Kabupaten Kediri, Dian Ariandy, S.Pd., mengungkapkan bahwa seluruh jenis perundungan kini marak ditemukan di lapangan.
Mulai dari kekerasan verbal, tindakan fisik, pengucilan sosial (relasional), hingga perundungan dalam bentuk tulisan digital. Guna memutus rantai salah kaprah ini, pihak sekolah dituntut untuk terus konsisten memberikan tindakan edukasi kepada siswa reguler agar mereka lebih berhati-hati dalam bertindak.
"Semua bentuk perundungan banyak ditemukan di lingkungan sekolah, baik verbal, fisik, bahkan pengucilan sosial. Kata bercanda sering kali menjadi tameng untuk beberapa perkataan atau perbuatan yang mengarah ke bullying. Oleh karena itu, edukasi terus kami lakukan di tingkat dasar, seperti di SDN Sidomulyo 1 Puncu, agar siswa berhati-hati dengan apa yang dilakukan dan diucapkan. Kami bahkan bisa mendatangkan pihak ketiga seperti Babinsa atau Bhabinkamtibmas untuk membantu edukasi," ujar Dian dalam dialog bersama RRI, Sabtu, 13 Juni 2026.
Sementara itu, mendeteksi dampak psikologis atau ‘luka yang tak terlihat’ pada korban ABK diakui memiliki tantangan tersendiri karena adanya hambatan ekspresi. Guru Pendamping Khusus Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri yang juga Guru SMPN 3 Kras, Teddy Indra Kusuma, menjelaskan bahwa korban biasanya menunjukkan perubahan perilaku seperti menarik diri dari lingkungan.
Untuk mengatasi hambatan laporan, sekolah bisa menggunakan bantuan support visual (dukungan visual) agar anak lebih mudah menyampaikan kondisinya. "Para guru diharapkan bisa dengan cepat mendeteksi sinyal perubahan dari ABK dan segera menindaklanjutinya sesuai SOP sekolah. Jika kasus sudah terjadi, penyelesaian sedapat mungkin dituntaskan di internal lembaga melalui beberapa pendekatan agar korban tidak dirugikan dan pelaku mendapat efek jera. Keterlibatan wali murid memang agak sulit, sehingga kami mengutamakan pendekatan personal, mediasi kedua pihak disertai konsekuensi, namun jika tidak mempan langkah referral seperti pindah sekolah bisa diambil," tutur Teddy.
Di sisi lain, tantangan besar dalam mewujudkan program Sekolah Ramah Anak di Kabupaten Kediri adalah masalah arus informasi dan komunikasi dua arah. Pihak narasumber menyayangkan sikap sebagian orang tua yang terkadang lebih memercayai narasi di media sosial tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu ke pihak sekolah, bahkan ada yang langsung melapor ke pihak ketiga.
“Selain komunikasi, tantangan teknis lainnya adalah sulitnya melakukan deteksi awal serta pemetaan terhadap siswa yang berpotensi menjadi korban maupun pelaku,” kata Teddy.
Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru dalam melatih kepekaan dan rasa empati untuk mengendus perubahan sekecil apa pun di lingkungan sekolah menjadi hal yang mutlak diperbaiki. Dian dan Teddy sepakat menegaskan bahwa upaya perlindungan ABK dari bahaya perundungan tidak akan bisa berjalan maksimal jika hanya bertumpu pada satu pihak.
Diperlukan komitmen kuat yang melibatkan sinergi dari semua sektor, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas demi mencegah perundungan di sekolah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....