Anyaman Tradisional Tetap Bertahan di Era Modern
- 19 Okt 2025 23:38 WIB
- Sendawar
KBRN,Sendawar : Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, kerajinan anyaman tradisional berbahan rotan makin hari makin jarang terlihat namun di Kampung Balok Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), semangat untuk mempertahankan warisan kerajinan tangan ini tetap berkobar.
Menurut keterangan Yohanes, salah satu pengrajin lokal yang telah lama menekuni usaha anyaman, keberadaan kerajinan anyaman di kampung ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga bagian dari identitas budaya yang ingin dilestarikan.
“Waktu dulu kita mulai dengan membuat tikar polos saja, Sekarang kita sudah bisa buat tas,dengan anyaman motif yang lebih rumit agar tetap menarik di era modern.”ujar Yohanes.
Hal ini sejalan dengan laporan bahwa usaha kerajinan rotan di Kutai Barat telah mengalami transformasi, pengrajin mulai memasukkan motif-motif baru, fungsi produk yang lebih variatif, dan mencoba menjangkau pasar yang lebih luas.
Meski demikian, tantangan juga tidak sedikit. Yohanes bercerita bahwa pasca pandemi-COVID-19, permintaan sempat menurun dan bahan baku rotan serta daun doyo mulai makin sulit diperoleh secara lokal.
“Kadang kita harus beli dari luar kampung dengan harga yang makin mahal,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Kubar melalui instansi terkait terus mendukung pengembangan kerajinan ini. Seperti halnya upaya memperkenalkan kerajinan tangan khas Kubar melalui pameran nasional dan internasional, agar produk kerajinan lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang ke pasar yang lebih luas.
Di Balok Asa, pengrajin seperti Yohanes berharap agar generasi muda kampung mau ikut terlibat dan mewarisi keterampilan anyaman. Karena menurutnya, bila tidak ada regenerasi maka suatu saat kerajinan ini bisa “hilang” dari kampung. “Kami ingin anak-anak kampung melihat bahwa membuat anyaman bukan pekerjaan kuno, tapi bisa jadi peluang usaha dan bagian dari kebanggaan budaya,” ujarnya.
Dengan tekad untuk terus membarui motif dan produk, serta memanfaatkan media sosial dan kerjasama dengan pelaku usaha yang lebih besar, para pengrajin Balok Asa optimis bahwa kerajinan anyaman tradisional mereka masih punya masa depan di era modern sekalipun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....