Krisis Regenerasi, Tunas Muda Hamadi Diingatkan Kembalikan Kejayaan Masa Lalu

  • 30 Agt 2026 17:20 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Perkembangan klub sepak bola legendaris asal Papua, Tunas Muda Hamadi, kini dinilai mengalami kemerosotan signifikan hingga mati suri akibat tata kelola manajemen yang tidak optimal dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut mendorong desakan kuat dari simpatisan klub sepak bola lokal agar segera dilakukan pembenahan total pada jajaran pengurus dan manajemen klub guna menyelamatkan masa depan pembinaan sepak bola usia dini di Tanah Papua.

Simpatisan klub Yance Sander Woisiri di Jayapura, Minggu (30/8/2026) menyampaikan Tunas Muda Hamadi memiliki rekam jejak emas sebagai salah satu pencetak talenta-talenta berbakat yang berhasil menembus kancah nasional hingga internasional.

"Tunas Muda ini merupakan klub asal Hamadi yang dahulunya melahirkan banyak bibit pemain sepak bola andalan. Mereka bermain di kancah nasional bahkan memperkuat Tim Nasional ke luar negeri," kata Yance Woisiri.

Ia mengungkapkan sejumlah nama besar pesepak bola Tanah Air tercatat lahir dari rahim Tunas Muda Hamadi, di antaranya mantan penggawa Timnas Indonesia Elie Aiboy, bek senior Ricardo Salampessy, almarhum Sony Papara yang pernah berkarier di Tanah Jawa, hingga generasi terkini seperti Osvaldo Haay dan Muhammad Tahir.

Namun, dalam beberapa bulan hingga tahun belakangan ini, klub legendaris tersebut dinilai mengalami kemerosotan drastis akibat pengelolaan internal yang tidak berjalan secara produktif.

"Kita melihat kondisi beberapa tahun belakangan ini mengalami kemerosotan atau mati suri dalam tata kelola. Kurangnya pergerakan dari manajemen berdampak langsung pada terhentinya sistem pengkaderan dan pembinaan usia dini," ucapnya.

Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan era 15 hingga 20 tahun lalu saat klub dipimpin oleh figur seperti Theos Ayomi dan Yoga Mambrasar. Pada masa tersebut, tata kelola klub berjalan dengan sangat kompak dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat, simpatisan, hingga suporter lokal.

Dampak dari vakumnya pergerakan manajemen berimbas langsung pada keberlangsungan Sekolah Sepak Bola (SSB) Tunas Muda Hamadi. Pembinaan jenjang usia dini tidak berjalan maksimal karena minimnya dukungan fasilitas dan sarana kelengkapan organisasi.

Bahkan dalam sejumlah turnamen lokal belakangan ini, partisipasi klub justru didominasi oleh para pemain senior kategori usia di atas 35 tahun, sementara ruang regenerasi bagi pemain muda menjadi sangat terbatas.

"Dalam satu klub bola itu bukan hanya soal pemain atau pelatih, tetapi ada pengurus yang mengatur administrasi, dukungan sponsor, serta suporter sebagai pemain ke-13. Harus ada perubahan manajemen total untuk mengembalikan aura dan kejayaan Tunas Muda seperti dulu," tegasnya.

Ia menegaskan Tunas Muda Hamadi sejatinya bukan hanya wadah bagi pemuda di kawasan Hamadi semata, melainkan juga merangkul bakat-bakat muda dari berbagai wilayah sekitarnya seperti Argapura hingga Entrop.

“Masyarakat dan pemerhati sepak bola di Hamadi ini berharap perubahan jajaran manajemen dapat segera terealisasi agar Tunas Muda Hamadi kembali bangkit sebagai wadah utama melahirkan generasi penerus sepak bola Papua yang berprestasi,” ucap dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....