Bripka Hamdani, Pembawa Perubahan Pendidikan di Pedalaman Papua
- 04 Jun 2024 21:23 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura: Bripka Hamdani Ismail, Anggota Bhabinkamtibmas Polda Papua memasuki tahun kelima belas bertugas di pedalaman Kabupaten Mappi, Papua Selatan, tepatnya di Kampung Wonggi, Distrik Passue Bawah. Selain menjalankan kewajibannya sebagai anggota Polri, Hamdani juga beperan penting dalam memajukan dunia pendidikan di Kampung Wonggi.
“Penempatan tugas pertama saya begitu dilantik menjadi anggota Polri di Polsek Citak Mitak, Polres Mappi. Hanya saja pada 2014 saya dipindahkan ke daerah terpencil atau di distrik pemekaran, yaitu Distrik Passue Bawah,” ucap Hamdani.
Sebelum terlibat dalam dunia pendidikan di Kampung Wonggi, perjalanan hidup Hamdani di awal masa penugasannya terbilang tak mudah. Untuk sampai ke Kampung Wonggi dari Polsek Citak Mitak, Hamdani harus menggunakan perahu cepat sekitar dua sampai tiga jam. Itu pun jika sungai yang dilewatinya tidak ada kendala.

“Jadi ada tumbuhan di sungai yang disebut oleh masyarakat di sini sebagai tebu rawa. Bila sungai tertutup tebu rawa, kami harus turun dari perahu dan membersihkannya dulu untuk membuat jalan,” kata dia.
“Kalau bisa dibilang tumbuhan ini seperti eceng gondok, tapi versinya besar. Setelah kami bersihkan dan buat jalan, baru kami angkat mesin perahu dan mulai mendorong perahu sampai ujungnya. Tapi ada kalanya sungainya surut, jadi kami letakan perahu di muara, lalu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki,” ujarnya.
Selain harus beradaptasi dengan kondisi geografis yang sulit, Hamdani juga menghadapi tantangan sosial yang berat. Sebuah peristiwa mengancam nyawa Hamdani terjadi di bulan Oktober 2012.
“Pernah suatu saat saya menegur anak sekolah saat jam belajar. Saya kemudian mendekati anak itu dan menegurnya, tapi anak itu melawan bahkan sempat menyerang saya,” ujarnya.
“Lalu saya mencoba untuk mengamankan dia, ternyata setelah saya perhatikan anak ini sedang dalam pengaruh minuman keras. Tetapi ada salah satu temannya yang memberitahu keluarganya bahwa saya yang memukul, dengan cerita saya menginjak anak itu, meninjunya, padahal saya tidak melakukan itu,” kata Hamdani.
Kabar bohong adanya aksi pemukulan Polisi terhadap anak beredar dengan cepat. Masyarakat yang menerima kabar itu tersulut emosi dan mencari Bripka Hamdani di kediamannya.
“Mereka merusak halaman tempat tinggal saya, bahkan banyak masyarakat yang menyerang saya. Tapi saya bersyukur ada kelompok masyarakat lainnya yang melindungi saya dan keluarga saya,” ucap ia.
Aksi masyarakat itu bukannya tanpa alasan. Sebab ada stigma di masyarakat kehadiran aparat malah menambah masalah dan membuat masyarakat tak nyaman.
“Dulu itu kalau ada masalah, polisi datang tidak tanya-tanya langsung main pukul. Saat itu saya beranggapan percuma saja ada polisi di sini, bukan mengamankan malah bikin tambah masalah, tambah rumit,” kata Korina, masyarakat Kampung wonggi.

Beranjak dari peristiwa itu, Hamdani mencari cara untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Sehingga tak ada lagi stigma negatif terhadap kinerja Polri di Kampung Wonggi. Mengubah pola komunikasi dan sikap melayani kepada masyarakat adalah langkah yang dilakukan Bripka Hamdani.
“Saya coba melakukan pendekatan terhadap masyarakat, memang butuh proses yang tidak mudah. Saya masuk ke Gereja, bermain ke rumah-rumah masyarakat. Saya berkomunikasi dengan masyarakat sambil bercanda gurau dan selalu bertegur sapa dengan mereka ketika bertemu di mana saja,” ucap Hamdani.
“Selain itu, saya dekati juga para tokoh adat. Saya membuka ruang untuk mendegar curahan hati mereka, bertukar pikiran dan pendapat, bahkan bertukar ide juga untuk mamajukan Kampung Wonggi,” kata dia menambahkan.
Lambat laun, Hamdani pun mendapat kepercayaan dari masyarakat setempat. Masyarakat menganggap Hamdani adalah bagian dari mereka.
“Biasa itu, sore-sore dia (Hamdani) datang, kumpul-kumpul dengan masyarakat. Bukan hanya dengan bapak-bapak, tapi mama-mama juga. Beliau datang bawa pinang sambil cerita-cerita. Makanya masyarakat senang dengan beliau,” ujar warga setempat, Fransiskus Tagi.
Kepercayaan masyarakat yang besar itu berujung diangkatnya Bripka Hamdani sebagai anak adat. Prosesi pengangkatan anak adat ditandai dengan pemasangan mahkota adat di kepala Birpka Hamdani oleh Kepala Suku di Kampung Wonggi.
“Saya melakukan pendekatan dengan berbagai cara ke masyarakat berulang kali selama bertahun-tahun. Lalu sampai pada sebuah momen yang saya tidak sangka juga, yakni mereka (masyarakat adat/red) berinisiatif mengangkat saya sebagai anak adat,” katanya.

Di tengah hidup berdampingan dengan masyarakat. Hamdani melihat banyak masalah dalam dunia pendidikan di Kampung Wonggi. Mulai dari minimnya tenaga guru, tingginya angka buta aksara hingga terbatasnya sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar.
“Saya mulai membantu guru mengajar di sekolah pada 2020. Karena saya lihat di sini kurang sekali tenaga guru. Akhirnya banyak anak-anak yang tidak sekolah dan mereka bermain di hutan atau ikut orang tuanya bekerja,” ucap Hamdani.
Dengan berpakaian dinas, Hamdani tampil di depan kelas layaknya seorang guru, mengajar membaca dan menulis. Para murid juga diajak bermain bersama di halaman sekolah untuk menamankan rasa kebersamaan.
“Pembelajarannya ringan-ringan saja dan anak-anak (murid) sangat senang. Saya juga mengajar anak-anak menghafal pancasila, menyanyi lagu kebangsaan dan mengenalkan para pahlawan dari Papua. Supaya mereka lebih cinta dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Hamdani.
Hamdani berinsiatif mengumpulkan buku-buku bacaan supaya anak-anak di Kampung Wonggi bisa membaca. Ia kemudian membuka donasi buku bekas yang masih layak pakai.
“Ada 100 lebih buku yang terkumpul dan saya bagikan ke anak-anak SD maupun SMP di Kampung Wonggi. Buku-buku ini saya dapat dari teman-teman Polri dan sebagian dari teman-teman ASN di Kabupaten Mappi,” ujarnya.
Usaha kerjas Bripka Hamdani dalam membantu pendidikan di Kampung Wonggi mendapat respon positif dari Kepala SMP Negeri 1 Wonggi, Hendrik Lattu. Hendrik mengapresiasi insiatif Bripka Hamdani untuk langsung turun mengajar di sekolah.
“Haya saya sendiri dan seorang guru yang ditugaskan untuk merintis SMP Negeri 1 Wonggi. Kami berdua menghadapi siswa yang jumlahnya hampir 80 orang dan kita sangat kewalahan. Kehadiran Bripka Hamdani sangat membantu kami, dari segi apapun itu sangat membantu kami,” kata Hendrik.

Harapan membangun pendidikan di Tanah Papua, khususnya di Kampung Wonggi, merupakan langkah penting dalam meningkatkan taraf hidup dan masa depan generasi muda di wilayah tersebut. Sebab pendidikan memberikan fondasi yang kokoh bagi kemajuan secara keseluruhan.
Perjuangan Bripka Hamdani di Kampung Wonggi, mencerminkan pentingnya peran polisi dalam membangun hubungan yang baik dengan masyarakat serta memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan akses pendidikan.
Melalui dedikasi dan kerja kerasnya, Bripka Hamdani tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai Babhinkamtibmas, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membantu mewujudkan harapan dan aspirasi masyarakat setempat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....