WWF Dorong 14 Sekolah Adiwiyata Jayapura Kurangi Food Waste
- 10 Sep 2026 15:10 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - WWF Program Papua mendorong 14 Sekolah Adiwiyata di Kabupaten Jayapura untuk mulai serius mengelola susut dan sisa pangan atau food waste, yang dikemas dalam program “Edukasi Susut dan Sisa Pangan bagi Sekolah Adiwiyata”, yang berlangsung di Kantor WWF Program Papua, Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (10/09/2026).
Pada kegiatan yang melibatkan sejumlah guru dari 14 sekolah Adiwiyata di Kabupaten Jayapura ini, WWF memberikan pembekalan mengenai pentingnya mencegah makanan terbuang sekaligus mengelola sisa makanan yang telah menjadi sampah organik.
Youth and Education Sustainable Development Officer WWF Program Papua, Roswiyai mengatakan, isu susut dan sisa pangan masih belum banyak diketahui masyarakat. Karena itu, edukasi perlu dimulai dari lingkungan sekolah dengan melibatkan guru sebagai penggerak perubahan perilaku.

“Untuk susut dan sisa pangan ini lebih kepada sampah organik, seperti sisa makanan maupun makanan yang belum sempat dimakan tetapi sudah membusuk. Ini yang kami coba kampanyekan dan edukasikan mulai dari sekolah,” ujar Roswiyai.
Menurutnya, pengelolaan sisa pangan juga berkaitan dengan upaya sekolah memenuhi indikator Sekolah Adiwiyata, khususnya dalam pengelolaan sampah organik dan nonorganik.
Tidak hanya mengajarkan pemilahan sampah, WWF juga mendorong sekolah agar mampu memaksimalkan bahan pangan sehingga tidak berakhir menjadi sampah. Sementara makanan yang sudah menjadi sampah diharapkan dapat dikelola dengan cara yang tepat.
Roswiyai menjelaskan, pelatihan tersebut tidak berhenti pada kegiatan yang digelar saat ini. Para guru diharapkan meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada siswa di sekolah masing-masing.
“Setelah pelatihan ini, mulai tanggal 11 sampai 29 September, sekolah kami bebaskan memilih waktu untuk melakukan sosialisasi di sekolah masing-masing. Harapannya, pesan tentang susut dan sisa pangan bisa diteruskan kepada anak-anak,” ujar Roswiyai
Sementara itu, perwakilan guru SMA YPPK Asisi Sentani, Ludia Rut Korano, menilai edukasi mengenai sisa pangan sangat bermanfaat karena memberikan bekal bagi guru untuk diterapkan bersama siswa.

Ia mengatakan, salah satu hal penting yang diperoleh dalam kegiatan tersebut adalah pemahaman mengenai dampak sisa makanan terhadap lingkungan, termasuk potensi munculnya gas metana dari sampah organik.
“Yang kami dapat dari kegiatan hari ini sangat bermanfaat, khususnya bagi kami para guru. Ini akan kami bawa sebagai bekal untuk anak-anak di sekolah, bagaimana memberikan edukasi tentang memilah sampah,” ujar Ludia.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menyediakan tempat sampah atau mengajarkan cara memilah, tetapi mengubah kebiasaan dan perilaku siswa di tengah kehidupan yang semakin serba instan.
“Ketika anak-anak sudah membuang sampah saja, kami sudah sangat bersyukur. Tetapi untuk memilah, kadang mereka merasa capek. Jadi harus ada ketegasan dan teguran. Namun, apapun tantangannya, proses harus tetap berjalan,” katanya.
Ludia berharap edukasi mengenai pengurangan sisa pangan tidak berhenti pada satu kegiatan. Menurutnya, diperlukan kolaborasi berkelanjutan antara sekolah, komunitas, dan berbagai pihak agar gerakan tersebut memiliki dampak yang lebih luas.
“Harapan saya, kegiatan seperti ini sering dilakukan dan tidak hanya di tempat ini. Bisa berkolaborasi antara sekolah dan komunitas sehingga menjadi kegiatan yang lebih besar,” harapnya.
Melalui keterlibatan guru dan sekolah Adiwiyata, WWF berharap kesadaran mengurangi sisa pangan dapat tumbuh sejak lingkungan pendidikan. Guru tidak hanya menyampaikan teori, tetapi menjadi teladan bagi siswa dalam mengurangi sampah dan menjaga lingkungan dari kebiasaan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....