Ekspedisi Trikora Dibukukan lewat Mengintip Sepotong Surga

  • 01 Sep 2026 17:42 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Pengalaman ekspedisi selama 10 hari menuju Puncak Trikora, Papua Pegunungan, dituangkan Juvensius atau Foxs Explore dalam buku berjudul Mengintip Sepotong Surga. Buku yang mencatat perjalanan ekspedisi pada 2024 tersebut diluncurkan di Alenia Papua Coffee & Kitchen Jakarta, Sabtu 29 Agustus 2026.

Peluncuran dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Manajer Program Kehutanan KEHATI Christian Natalie dan pemimpin ekspedisi Ruslan Budiarto, dengan moderator Harun Mahbub Billah.

Juvensius mengatakan, pendakian Puncak Trikora menjadi pengalaman yang mendorongnya mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk buku. Ia mengaku sebelumnya tidak tumbuh di lingkungan yang dekat dengan gunung.

“Bahkan saya baru tahu kalau gunung baru bisa didaki ketika saya sudah ada di Jawa, ketika sedang berwisata ke Gunung Bromo,” ujar Juvensius dalam keterangannya.

Ketertarikannya kemudian berkembang hingga membawa Juvensius mendaki lebih dari 20 gunung di dalam dan luar negeri. Pendakian Gunung Semeru pada 2018 menjadi pengalaman pertamanya mencapai puncak.

Untuk ekspedisi Puncak Trikora, ia mengaku mempersiapkan kondisi fisik selama enam bulan. Persiapan tersebut dilakukan karena medan pendakian yang berat membutuhkan kesiapan fisik dan mental.

“Untuk latihan fisik saya sudah siapkan enam bulan sebelum berangkat, karena saya tidak ingin merepotkan orang-orang di sana ketika pendakian,” kata Juvensius.

Dalam bukunya, ia menceritakan perjalanan mulai dari Kota Wamena, perjuangan menuju Puncak Trikora hingga perjalanan turun. Catatan tersebut dilengkapi foto-foto yang menggambarkan kondisi selama ekspedisi dan disajikan menggunakan bahasa populer.

Puncak Trikora atau Ettiakup memiliki ketinggian sekitar 4.751 meter di atas permukaan laut dan berada di zona inti Taman Nasional Lorentz, Papua Pegunungan.

Dalam diskusi peluncuran buku, Manajer Program Kehutanan KEHATI Christian Natalie mengatakan kawasan pegunungan Papua memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang penting bagi keberlangsungan ekosistem.

Ia mengibaratkan hutan Papua sebagai “supermarket” yang menyediakan berbagai sumber pangan dan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia.

Namun, Christian mengingatkan kondisi hutan menghadapi ancaman kerusakan yang perlu mendapat perhatian.

“Hutan kita tidak sedang baik-baik saja,” katanya.

Menurutnya, dokumentasi perjalanan seperti yang dilakukan Juvensius dapat menjadi media edukasi untuk meningkatkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, ini aksi nyata memberi edukasi untuk aksi-aksi keberlanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Ruslan Budiarto menilai kawasan pegunungan Papua menyimpan kekayaan alam yang khas, mulai dari bentang batuan, flora, fauna hingga kearifan lokal.

Ia melihat potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi melalui pengelolaan yang tetap menjaga kelestarian alam.

“Tak perlu menyedot emas dari perut buminya,” kata Ruslan.

Ia juga menyoroti keberadaan gletser di kawasan tropis Papua yang menjadi salah satu keunikan kawasan pegunungan tersebut.

“Jadi benar itu judulnya mengintip sepotong surga,” ucap dia.

Moderator diskusi, Harun Mahbub Billah, mengapresiasi penerbitan catatan ekspedisi tersebut. Menurutnya, buku dapat menjadi referensi bagi dunia pendakian sekaligus media kampanye untuk menjaga alam Papua.

Buku Mengintip Sepotong Surga dapat diperoleh melalui akun Instagram Foxs Explore. Sebagian hasil penjualan buku akan didonasikan kepada Sahabat Kasih Pedalaman dan Yayasan Sisi Baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....