UNICEF dan Pemkot Jayapura Perkuat Koordinasi Pelaksanaan Program MBG
- 15 Jun 2026 16:37 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – Unicef Papua bersama Pemerintah Kota Jayapura, Badan Gizi Nasional (BGN), Yayasan Gapai Harapan Papua, serta para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggelar Rapat Koordinasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna mengevaluasi sekaligus memperkuat pelaksanaan program strategis nasional tersebut di Kota Jayapura, Senin (15/06/2026).
Kepala Perwakilan UNICEF Papua dan Papua Barat, Aminudin Ramdan mengatakan, Program Makan Bergizi Gratis memiliki peran penting dalam menjawab persoalan gizi anak, khususnya di wilayah Papua yang masih menghadapi tantangan akses pangan dan tingginya jumlah anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
Menurutnya, program MBG tidak sekadar menyediakan makanan bagi anak-anak, tetapi juga menjadi upaya pemenuhan hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain itu, program tersebut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui perputaran ekonomi lokal dalam penyediaan bahan pangan.
“Program ini sangat strategis dan memiliki keterkaitan yang luas. Persoalan gizi tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, infrastruktur hingga perdagangan,” ujar Aminudin.
Dijelaskan, UNICEF melihat terdapat tiga faktor utama yang menentukan keberhasilan pelaksanaan MBG, yakni keamanan pangan, ketepatan distribusi, serta ketersediaan data dan tindak lanjut. Keamanan pangan dinilai penting untuk memastikan makanan yang diterima anak-anak aman dan berkualitas. Sementara ketepatan distribusi mencakup ketepatan waktu penyaluran serta kesesuaian kandungan gizi dengan kebutuhan kelompok sasaran.
“Data yang akurat diperlukan untuk mengetahui capaian program, mengidentifikasi kelompok yang belum terjangkau, hingga memastikan kelompok rentan seperti anak stunting, ibu hamil, dan ibu menyusui memperoleh layanan yang sesuai,” tegas Aminudin Ramdhan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala KPPG Jayapura, Djimmy Yomaiwi Douw, mengakui bahwa pelaksanaan MBG di Papua masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam aspek koordinasi dan tata kelola program yang masih terus disempurnakan.
Ia menyebutkan bahwa pada awal pelaksanaan program sempat terjadi penolakan di sejumlah daerah. Namun seiring berjalannya waktu, penerimaan masyarakat semakin meningkat. Bahkan, menurutnya, anak-anak kini mulai mempertanyakan apabila makanan terlambat tiba di sekolah.
“Awalnya banyak penolakan, tetapi sekarang ketika makanan terlambat sampai ke sekolah, anak-anak mulai bertanya kenapa terlambat. Ini menunjukkan program ini sudah mulai dirasakan manfaatnya,” kata Djimmy.
Djimmy juga menjelaskan bahwa BGN saat ini tengah menyusun penyempurnaan petunjuk teknis pelaksanaan program dengan mempertimbangkan berbagai masukan dari pemerintah daerah di enam provinsi Papua. Beberapa tantangan yang menjadi perhatian antara lain tingginya biaya distribusi, kondisi geografis, serta keterbatasan jumlah dapur SPPG yang tersedia.
Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Jayapura, Evert Nicolas Merauje, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Jayapura dalam mendukung pelaksanaan MBG. Menurutnya, pemerintah daerah telah berkontribusi melalui penyesuaian dan efisiensi anggaran untuk mendukung program strategis nasional tersebut.
Ia mengingatkan seluruh pihak yang terlibat agar memaknai makanan sebagai sesuatu yang bernilai dan harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.
“Makanan itu sangat penting. Dari makanan anak-anak akan bertumbuh menjadi kuat, sehat, dan cerdas. Karena itu, mari kita memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita,” ujarnya.
Evert juga menyoroti sejumlah tantangan teknis di lapangan, khususnya terkait pengelolaan limbah dan sanitasi pada beberapa dapur MBG yang masih memerlukan perhatian. Menurutnya, aspek sanitasi dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) menjadi hal penting untuk menjamin kualitas layanan program.
“Melalui rakor ini, saya harap seluruh pihak sepakat untuk memperkuat sinergi dan memperbaiki berbagai aspek pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh anak-anak, ibu hamil, dan kelompok sasaran lainnya di Kota Jayapura,” ujar Merauje.
Selain memperkuat koordinasi antarinstansi, forum tersebut juga menekankan pentingnya mekanisme umpan balik dari penerima manfaat sebagai dasar evaluasi keberhasilan program. Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan status gizi, kesehatan, dan kualitas hidup anak-anak sebagai generasi masa depan Papua.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....