Dinkes Kota Jayapura Gandeng Jurnalis Perkuat Edukasi HIV dan TB

  • 13 Jun 2026 08:59 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Dinas Kesehatan Kota Jayapura menggandeng jurnalis dalam upaya memperkuat pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS serta Tuberculosis (TB) melalui kegiatan sosialisasi yang berlangsung di salah satu hotel di Abepura, Kota Jayapura, Jumat (12/6/2026).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas media dalam menyampaikan informasi kesehatan yang akurat, sekaligus mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) maupun penyintas TB di masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu mengatakan, kolaborasi dengan media menjadi langkah penting mengingat penyebaran HIV AIDS dan TB, yang masih menjadi tantangan serius di Kota Jayapura.

"Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi yang benar kepada masyarakat sehingga dapat membantu upaya pencegahan dan penanggulangan kedua penyakit ini," tutur Juliana Napitupulu.

Dijelaskan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Jayapura, jumlah kumulatif kasus HIV AIDS hingga triwulan pertama tahun 2026 mencapai 11.235 kasus. Angka tersebut meningkat dibandingkan akhir tahun 2025 yang tercatat sebanyak 10.946 kasus, sekaligus menempatkan Kota Jayapura sebagai daerah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Papua.

Dilain pihak, kasus Tuberculosis juga masih menjadi perhatian. Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 3.007 kasus TB, dengan penambahan 932 kasus baru selama periode Januari hingga Mei 2026.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ns. Yusnita Pabeno, S.Kep., M.Kep., menjelaskan infeksi HIV dan TB saling berkaitan, sebab keduanya dapat memperburuk kondisi sistem kekebalan tubuh seseorang, sehingga meningkatkan risiko kesakitan hingga kematian.

Menurutnya, selain penanganan medis, tantangan besar yang dihadapi adalah masih kuatnya stigma sosial terhadap ODHIV dan penderita TB.

"Salah satu strategi untuk memutus rantai penularan sekaligus mengurangi stigma adalah menyebarkan informasi yang benar secara berkelanjutan. Media massa menjadi sarana yang sangat efektif karena mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat," tegas Yusnita Pabeno.

Melalui sosialisasi ini, pihaknya berharap para jurnalis memiliki pemahaman yang sama mengenai HIV AIDS dan TB, sehingga mampu menghasilkan pemberitaan yang akurat, inklusif, suportif, dan berempati terhadap kelompok rentan.

“Dengan penyampaian informasi yang tepat, masyarakat diharapkan tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara sukarela dan segera menjalani pengobatan apabila terdiagnosis,” tegasnya.

Kegiatan tersebut diisi dengan pemaparan materi dan diskusi interaktif yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya dr. Helena Picarima yang membahas informasi dasar HIV AIDS dan dr. Victor M., Sp.P., yang mengulas penanganan Tuberculosis. Perwakilan jurnalis, Paul Tambunan dari Tribun Papua, turut berbagi perspektif mengenai peran media dalam edukasi kesehatan.

Selain tenaga kesehatan dan insan pers, sosialisasi juga melibatkan berbagai komunitas, seperti Komunitas Rojali, Pelangi, IWAJA, serta organisasi masyarakat sipil dan mahasiswa.

Perwakilan kelompok rentan berharap jurnalis dapat menghadirkan pemberitaan yang lebih sensitif terhadap isu-isu kemanusiaan dan memberikan ruang bagi suara komunitas dalam upaya penanggulangan HIV AIDS dan TB.

"Kami berharap jurnalis di Kota Jayapura dapat menjadi percontohan sebagai jurnalis yang ramah terhadap kelompok rentan, sehingga edukasi kepada masyarakat dapat berjalan lebih efektif," ujar salah seorang peserta dari komunitas tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....