Keteladanan Pangdam Cenderawasih Dorong Perdamaian Wamena
- 17 Mei 2026 18:21 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Kehadiran Pangdam XVII/Cenderawasih dalam ibadah di Gereja GKI Betlehem Wamena, Minggu (17 Mei 2026), diapresiasi kalangan masyarakat Papua. Langkah tersebut dinilai membawa pesan kemanusiaan, perdamaian, serta harapan di tengah konflik perang suku di Kabupaten Jayawijaya.
Apresiasi tersebut disampaikan Habelino Sawaki, anak Papua sekaligus alumni Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Menurutnya, kehadiran Pangdam di rumah ibadah mencerminkan pendekatan humanis di tengah trauma sosial yang sedang dirasakan masyarakat.
“Perdamaian bukan sekadar tidak adanya perang. Tetapi hadirnya keadilan, kemanusiaan, dan hati yang saling menghormati,” ujar Habelino.
Ia menilai upaya tersebut menunjukkan, bahwa pendekatan keamanan tidak selalu harus diwujudkan melalui kekuatan senjata. Tetapi juga lewat pendekatan kasih, dialog, dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang hidup di tengah masyarakat Papua.
Menurut Habelino, rakyat Papua saat ini membutuhkan kehadiran negara yang mampu mendengar, merangkul, dan menghadirkan rasa aman. Karena itu, pendekatan dialogis dinilai menjadi jalan penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara.

“Kehadiran Pangdam memberi suasana yang lebih sejuk. Apalagi di tengah krisis kepercayaan sebagian masyarakat Papua terhadap TNI,” katanya.
Ia juga berharap langkah tersebut tidak berhenti sebagai simbol sesaat. Tetapi menjadi bagian dari konsistensi pendekatan teritorial, yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan penghormatan martabat rakyat Papua.
Dalam refleksinya, Habelino mengutip pemikiran tokoh dunia mengenai pentingnya perdamaian, moralitas, serta penghormatan terhadap sesama manusia. Para tokoh dunia tersebut adalah Thomas Hobbes, Immanuel Kant, Jürgen Habermas, hingga Mahatma Gandhi.
Menurutnya, perdamaian di Papua tidak akan lahir hanya melalui operasi keamanan. Tetapi juga melalui keadilan, ketulusan, dan rasa saling percaya dari negara dan rakyat.
“Papua membutuhkan kasih yang nyata dan keadilan yang hidup. Serta negara yang hadir dengan hati,” ujarnya menutup refleksi tersebut..
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....