Solidaritas Warga Menguat Pasca Aksi Penembakan Pilot

  • 16 Feb 2026 22:44 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Pasca aksi penembakan yang mengakibatakan tewasnya dua orang kru pesawat di bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel beberapa hari yang lalu, menenggugah keprihatinan warga, sebab pasca insiden itu, nyaris tidak ada pesawat penumpang yang meyani dari dan kelur Korowai Baru.

Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz 2026, Kombes. Pol. Yusuf Sutejo mengatakan, para penumpang yang selamat secara sukarela mengumpulkan dana dan menitipkannya kepada perwakilan pilot maskapai Smart Air sebagai bentuk empati dan belasungkawa.

“Solidaritas para penumpang menunjukkan bahwa masyarakat Korowai sangat bergantung pada pesawat. Itu satu-satunya akses masuk. Jalur darat belum ada, dan wilayahnya sangat terpencil,” ujar Yusuf dalam keterangannya, Senin (16/02/2026).

Korowai berada di wilayah Korowai, Kabupaten Boven Digoel, dengan kondisi geografis didominasi hutan lebat. Jumlah penduduk sekitar 100 kepala keluarga. Fasilitas kesehatan sangat terbatas, hanya terdapat satu sekolah dasar swasta, dan permukiman warga terkonsentrasi di sekitar bandara kecil yang menjadi nadi kehidupan masyarakat.

Di tengah keterbatasan tersebut, jajaran kepolisian setempat harus mengamankan wilayah yang sangat luas. Tantangan medan dan akses menjadi faktor krusial dalam proses pengejaran pelaku.

Menindaklanjuti arahan pimpinan Polri, Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 menambah kekuatan personel yang didukung Sat Brimob Polda Papua, jajaran Reskrim, serta Polres Yahukimo. Dari sekitar 20 orang yang diduga terlibat dalam penembakan terhadap awak pesawat perintis pada 11 Februari, dua orang telah diidentifikasi dan masih dalam pendalaman.

Berdasarkan keterangan saksi dan penumpang selamat, diperkirakan terdapat tiga hingga empat senjata api laras panjang yang digunakan pelaku, sementara lainnya membawa senjata tajam seperti tombak, panah, dan parang. Jenis serta asal senjata api masih dalam proses identifikasi aparat.

Secara umum, kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Yahukimo diperkirakan berjumlah sekitar 200 orang dan tersebar dalam beberapa kelompok kecil. Sejak Januari hingga pekan lalu, tercatat 23 kasus kekerasan yang diduga dilakukan kelompok tersebut, dengan pola aksi yang bertujuan menunjukkan eksistensi dan menarik perhatian.

Di tengah sunyinya hutan Korowai, negara menegaskan kehadirannya: memastikan penerbangan perintis tetap berjalan, fasilitas publik terlindungi, dan rasa aman warga perlahan pulih.

“Negara tidak boleh kalah oleh teror. Penegakan hukum kami pastikan profesional, terukur, dan berbasis alat bukti,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....