Senyum Anak Kiwirok yang Kembali Bersama Polri

  • 22 Des 2025 08:59 WIB
  •  Jayapura

KBRN, Jayapura: Di antara sejumlah landasan pacu ekstrem di Tanah Papua, Distrik Kiwirok menjadi salah satunya. Distrik ini berada di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan. Aspalnya membentang singkat, sedikit melengkung, dengan ujung langsung berbatasan tebing curam.

Pemandangan inilah yang pertama kali menyambut Bripka Ita Sambo Allo saat menginjakkan kaki di Kiwirok, Februari 2024. Namun, yang paling terasa bukan hanya medan wilayahnya, melainkan trauma warga yang belum pulih setelah konflik bersenjata.

Kiwirok pernah berubah menjadi “kota mati”. Serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada September 2021 meninggalkan luka mendalam.

Aksi tersebut disertai pembakaran fasilitas umum dan menewaskan tenaga kesehatan. Warga lari ke hutan, mengungsi ke Oksibil dan sejumlah wilayah sekitar, meninggalkan kampung halaman mereka dalam keadaan kosong.

Neri, guru SMP di Kiwirok, masih mengingat jelas peristiwa itu. Saat penyerangan terjadi, ia berada di Jayapura, sementara anak dan ibunya terjebak di Kiwirok.

“Anak saya bersama neneknya kabur ke hutan dan tinggal di sana selama dua minggu. Saya panik, lalu menyusul ke Oksibil dan meminta siapa saja yang ke Kiwirok untuk membawa mereka keluar dari sana,” ucap Neri mengenang.

Ketika Bripka Ita tiba di Kiwirok sebagai bagian dari Satgas Operasi Damai Cartenz, situasi keamanan mulai berangsur terkendali. Namun, kondisi mental warga belum sepenuhnya pulih.

Dalam ingatan Ita, Kiwirok masih terasa sepi, rumah-rumah berdiri berjauhan, sebagian masih kosong. Aktivitas warga terbatas, seolah kampung itu baru perlahan hidup kembali setelah lama ditinggalkan.

“Saat kami datang, warga berkumpul karena melihat pesawat. Tapi menurut teman-teman satgas pengamanan, kalau tidak ada kedatangan aparat, anak-anak lebih sering diam di rumah,” katanya.

Bripka Ita adalah satu-satunya Polwan non-organik dari Polda Kalimantan Timur yang bertugas di wilayah itu. Ia menjalankan peran sebagai agen trauma healing.

Pendekatan dilakukan Ita secara perlahan. Buku tulis, alat gambar, dan makanan ringan menjadi pemantik awal.

Anak-anak yang semula hanya menatap dari kejauhan mulai berani mendekat. Sekitar 20 anak berkumpul saat Ita menyapa mereka, memperkenalkan diri, lalu mengajak bermain dan bernyanyi.

“Saya sampaikan berulang-ulang, kami tidak datang untuk menakut-nakuti. Kami datang untuk menjaga adik-adik dan mama-mama,” ujar Ita.

Sebagai perempuan, Ita merasa lebih mudah mendekati mama-mama dan anak-anak. Percakapan pun perlahan terbuka. Cerita tentang ketakutan, kehilangan, dan ingatan akan kekerasan yang pernah mereka alami mulai keluar.

Kegiatan trauma healing kemudian dijalankan untuk memulihkan kondisi psikologis warga. Fokus utamanya anak-anak dan mama-mama yang masih menyimpan rasa takut. Tanpa pemulihan mental, aktivitas sehari-hari sulit berjalan normal.

“Kalau mental tidak pulih, mereka akan takut melakukan apa pun. Padahal hidup harus terus berjalan, makan, bekerja, beraktivitas. Mental yang kuat membuat mereka berani menjalani hari-hari berikutnya,” kata Ita.

Perubahan tidak terjadi seketika. Namun, anak-anak mulai berbicara, tertawa, dan berinteraksi. Mereka memanggil Bripka Ita dengan sebutan “kakak Ita” atau “ibu”.

Pendekatan yang dilakukan Ita memicu reaksi para mama-mama. Mereka senang melihat anak-anak kembali tersenyum dan berani berkumpul.

Satu momen yang paling diingat Ita terjadi saat ia berada di tengah warga. Tiba-tiba, seorang mama berlari menuju rumahnya. Ita sempat bertanya-tanya melihat kejadian itu.

Tak lama kemudian, mama tersebut kembali menghampiri Ita sambil membawa sebuah noken. Tas rajut khas Papua itu langsung dikalungkan ke tubuh Ita.

“Mama itu bilang, ‘Ini tanda terima kasih.’ Saya terharu, karena kehadiran kami benar-benar diterima oleh warga di sana,” ujar Ita mengenang momen tersebut.

Kepala Distrik Kiwirok, Abdeus Tepmul, mengatakan warga mulai kembali ke kampung mereka secara bertahap sejak akhir 2022. “Kami mulai masuk kembali ke Kiwirok dan tinggal dalam keadaan lebih tenang,” kata Abdeus.

Ia berharap jaminan keamanan di Kiwirok dapat terus dijaga secara konsisten. “Kami juga berharap pembangunan ke depan bisa mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Di balik sikapnya yang tenang saat mendampingi warga, Ita mengakui ada sisi manusiawi yang sempat dihantui keraguan sebelum berangkat.

“Secara pribadi, rasa takut pasti ada. Saya perempuan, ditambah lagi mendengar cerita tentang kerusuhan, penembakan, dan pembakaran fasilitas,” ujar Ita.

Namun, rasa takut itu tidak menghentikannya. Ia memilih tetap berangkat karena tugas dan pertimbangan kemanusiaan. “Karena apa yang kami lakukan ini demi kebaikan warga di sana,” katanya.

Penugasan Ita tidak berhenti di Kiwirok. Ia bergerak tentatif dari satu wilayah rawan ke wilayah lain, seperti Yahukimo dan Puncak Jaya. Di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Ita juga mendampingi para guru korban teror KKB yang dievakuasi ke Jayapura.

Sebagian korban mengalami patah tulang dan luka serius, sementara keluarga mereka belum tiba. Dalam kondisi itu, Ita mengambil peran sebagai pendamping. Ia memapah, mendampingi, dan memastikan para korban tidak merasa sendirian.

“Saya menempatkan diri sebagai figur keluarga sementara sampai keluarga mereka datang. Banyak dari mereka kesakitan dan datang tanpa pendamping,” kata Ita.

Bertugas di zona merah Pegunungan Papua menghadirkan tantangan tersendiri. Selain landasan pacu yang ekstrem, akses jalan antardistrik juga sulit dan melewati kawasan hutan lebat.

“Kadang untuk bergerak dari satu distrik ke distrik lain kami menggunakan mobil. Misalnya dari Oksibil ke Serambakon, jalurnya penuh hutan dan menantang. Itu juga jalur yang biasa dilalui KKB,” ujarnya.

Di tengah penugasan yang berat, ada pula momen-momen ringan yang membekas. Salah satunya di SD Serambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang. Setahun setelah kunjungan pertamanya, anak-anak di sekolah itu masih mengingat Ita.

“Mereka bilang, ‘Ini kakak yang datang tahun lalu, yang kasih kami buku, yang tanya cita-cita kami’,” cerita Ita. “Saya tidak menyangka perhatian kecil itu bisa diingat selama itu.”

Beberapa bulan setelah kegiatan trauma healing di Kiwirok, Ita menerima kiriman video dari rekan di lapangan. Di video itu, anak-anak terlihat tersenyum, tertawa, dan menyebut namanya.

“Meskipun saya hanya sekali ke sana, perubahan itu terlihat. Anak-anak sudah jauh lebih baik. Itu menunjukkan trauma healing memberi dampak positif,” kata Ita.

Bagi Ita, ketulusan menjadi kunci dalam menjalankan tugas. Ia percaya masyarakat dapat merasakan niat yang datang tanpa pamrih.

“Waktu itu saya ketemu mama-mama di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Mereka bilang sudah menganggap saya seperti anak sendiri. Itu sangat berarti bagi saya,” ujarnya.

Jika suatu hari kembali bertemu anak-anak dan warga Kiwirok, Ita memiliki pesan sederhana. Mereka diminta tetap semangat menjalani hidup setelah semua yang mereka alami, serta berani bermimpi.

“Mereka anak Papua, tapi juga anak Indonesia. Hak mereka sama, kesempatan mereka sama. Terus sekolah dan kejar cita-cita,” kata Ita.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....