Ancaman Narkoba di Provinsi Papua Mulai Menyasar Lingkungan Sekolah

  • 05 Okt 2026 06:35 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua menyoroti maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, khususnya di lingkungan pendidikan di Kota Jayapura.

Penyuluh Narkoba Ahli Muda BNN Provinsi Papua, Agusman Firman, mengatakan kondisi penyalahgunaan narkotika di Papua, khususnya Kota Jayapura, saat ini sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Agusman dalam dialog Polisi Menyapa RRI Jayapura, Kamis (1 Oktober 2026).

“ Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika kini mulai menyasar lingkungan pendidikan. Menurutnya, upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba atau P4GN tidak hanya menjadi tanggung jawab Polri, TNI, dan BNN, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat.” katanya

Agusman menjelaskan, BNN Papua saat ini menjalankan sejumlah program pencegahan, termasuk program Ananda Bersinar sebagai bagian dari aksi nasional pencegahan narkotika sejak usia anak untuk mendukung terwujudnya generasi emas Indonesia 2045.

Selain itu, BNN Papua juga mendorong terwujudnya Kelurahan Bersinar (Bersih Narkoba). Pada tahun ini, Kelurahan Hamadi dan Kotaraja menjadi wilayah yang difokuskan untuk dicanangkan sebagai kelurahan bersih dari penyalahgunaan narkotika.

BNN Papua juga telah melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan, baik di tingkat Kota Jayapura maupun Provinsi Papua. Upaya tersebut diarahkan agar pencegahan narkoba dapat terintegrasi dalam sistem pendidikan.

Agusman berharap pada 2027 seluruh sekolah, khususnya di Kota Jayapura, dapat mulai menerapkan integrasi kurikulum antinarkoba.

Menurutnya, edukasi tentang bahaya narkoba tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi konvensional, tetapi perlu diintegrasikan ke dalam mata pelajaran dan aktivitas pendidikan di sekolah.

BNN Papua, lanjut Agusman, ingin mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bersih dari penyalahgunaan narkotika.

Ia mengungkapkan, hingga Oktober 2026, BNN Papua telah memberikan layanan rehabilitasi kepada 33 klien, dan sebagian besar atau hampir 90 persen berasal dari usia sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

“Jadi faktor geografis Papua yang berbatasan langsung dengan negara tetangga serta banyaknya jalur tidak resmi menjadi salah satu tantangan dalam mencegah peredaran narkotika. Karena itu, menurutnya, koordinasi antara aparat dan masyarakat serta edukasi mengenai bahaya narkotika perlu terus diperkuat.” ucapnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai bahaya ganja yang masih menjadi salah satu jenis narkotika yang banyak beredar di wilayah Papua. Menurutnya, masih terdapat masyarakat yang belum memahami bahwa ganja termasuk narkotika golongan I.

Agusman mengungkapkan, petugas bahkan pernah menemukan dugaan penyalahgunaan ganja di lingkungan salah satu sekolah tingkat SMP. Harga ganja yang relatif murah, mulai dari sekitar Rp10 ribu hingga Rp30 ribu, dinilai turut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

BNN Papua mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama memperkuat upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Agusman berharap sinergi seluruh pihak dapat mewujudkan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, sehingga generasi muda Papua dapat tumbuh sehat dan terhindar dari bahaya narkotika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....