Fakta Psikologis Manusia Cenderung Saling Memaafkan
- 13 Sep 2026 12:29 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memaafkan, terutama ketika hubungan dengan orang yang menyakiti mereka masih dianggap penting. Dalam psikologi, memaafkan bukan sekadar melupakan kesalahan, melainkan perubahan perasaan dan sikap agar seseorang terbebas dari rasa dendam.
Penelitian Greater Good Science Center, menyebutkan bahwa empati menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang untuk memaafkan. Michael McCullough dan rekan-rekannya menemukan, peningkatan empati terhadap pelaku kesalahan berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan untuk memberikan maaf.
Memaafkan juga sering muncul, karena manusia ingin mempertahankan hubungan bermakna, seperti hubungan dengan pasangan, keluarga, atau sahabat terdekat. Ketika hubungan memiliki nilai emosional kuat, seseorang dapat terdorong mengurangi keinginan membalas dan memilih membangun kembali hubungan tersebut.
Memaafkan tidak selalu berarti seseorang menganggap kesalahan itu benar, tidak pernah terjadi, atau harus dilupakan begitu saja selamanya. Melansir American Psychological Association, forgiveness berbeda dengan membenarkan kesalahan, melupakan kejadian, atau otomatis berdamai kembali dengan pelaku.
Memilih melepaskan dendam, juga memiliki alasan psikologis karena menyimpan kemarahan terus-menerus dapat menjadi beban emosional yang sangat berat. Sejumlah penelitian menunjukkan, melepaskan dendam berkaitan dengan berkurangnya stres serta dapat mendukung kesejahteraan psikologis dan hubungan sosial
Namun, pernyataan bahwa manusia selalu memaafkan manusia lain, perlu dipahami hati-hati karena tidak semua orang mampu atau mau. Proses memaafkan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk empati, kualitas hubungan, rasa percaya, tingkat luka, serta keinginan berdamai dengan masa lalu.
Memaafkan tidak harus berarti memberikan kesempatan sama kepada orang yang pernah menyakiti kita, untuk mengulangi perlakuan merugikan tersebut. Seseorang dapat memaafkan secara emosional, tetapi tetap menetapkan batasan agar dirinya terlindungi dari perlakuan yang kembali merugikan tersebut.
Pada akhirnya, kemampuan manusia memaafkan menunjukkan bahwa hati dan pikiran memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap luka yang dialami. Memaafkan bukan berarti menganggap rasa sakit tidak penting, melainkan memilih agar kesalahan orang lain tidak terus mengendalikan kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....