Makan Tak Selalu Lapar, Emosi Jadi Penyebab

  • 28 Apr 2026 10:39 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Siapa sangka, kebiasaan makan tidak selalu didorong oleh rasa lapar fisik melainkan juga oleh kondisi emosional seseorang. Melansir sc.hospital, survei terbaru menunjukkan sekitar 47 persen masyarakat Indonesia makan bukan karena lapar, tetapi untuk meredakan emosi.

Fenomena ini dikenal sebagai 'emotional eating,' yaitu kebiasaan mengonsumsi makanan untuk meredakan perasaan negatif bukan kebutuhan energi tubuh. Dalam kondisi tertentu, makanan sering dijadikan pelarian untuk mendapatkan rasa nyaman atau hiburan instan di tengah tekanan hidup.

'Emotional eating,' umumnya dipicu oleh berbagai faktor, seperti stres pekerjaan, tekanan sosial, hingga perasaan jenuh yang berkepanjangan. Saat emosi tidak dikelola dengan baik, tubuh cenderung mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik melalui makanan.

Sayangnya, kebiasaan ini dapat berdampak pada pola makan tidak sehat jika dilakukan secara terus-menerus tanpa dikontrol. Seseorang bisa kehilangan kontrol terhadap jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi, terutama makanan tinggi gula, lemak, dan garam.

Selain berdampak pada kesehatan fisik, 'emotional eating' juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang dalam jangka panjang secara serius. Perasaan bersalah setelah makan berlebihan sering muncul, yang akhirnya justru memperburuk suasana hati dan memicu siklus berulang lagi.

Untuk itu, penting membedakan antara rasa lapar fisik dan lapar emosional, agar kebiasaan ini dapat dikendalikan dengan baik. Lapar fisik muncul secara bertahap dan dapat dipenuhi dengan berbagai jenis makanan, sedangkan lapar emosional muncul tiba-tiba.

Mengelola 'emotional eating,' dapat dimulai dengan mengenali pemicu emosi serta mencari alternatif penyaluran yang lebih sehat dan positif. Aktivitas seperti olahraga, berbicara dengan orang terdekat, atau melakukan hobi dapat menjadi cara efektif mengurangi tekanan tanpa makanan.

Dengan memahami pola ini, setiap individu dapat lebih bijak dalam menyikapi kebiasaan makan sehari-hari yang dipengaruhi emosi. Mengelola emosi dengan baik tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Sebagai penutup, tanyakan pada diri sendiri setiap kali ingin makan, apakah benar karena lapar atau sekadar dorongan emosi? Kesadaran sederhana ini dapat membantu Anda bijak memilih, apakah tubuh membutuhkan energi atau hati sedang mencari pelarian sesaat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....