Mengungkap Petrichor: Aroma Tanah Basah saat Hujan Turun

  • 08 Apr 2026 15:59 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Hujan yang turun menyentuh tanah kering, sering menghadirkan aroma khas yang menenangkan bagi banyak orang. Bau ini bukan sekadar sensasi alami tanah yang basah, melainkan fenomena ilmiah bernama petrichor.

Istilah petrichor, diperkenalkan oleh Isabel Joy Bear dan R. G. Thomas pada tahun 1964. Penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Nature dan menjelaskan aroma tersebut berasal dari minyak tumbuhan yang terakumulasi di tanah.

Melansir jurnal Nature, minyak yang dihasilkan tanaman menempel pada permukaan batu dan tanah selama periode kering. Ketika hujan turun, minyak tersebut dilepaskan ke udara sebagai partikel halus sehingga menghasilkan aroma khas menyegarkan alami.

Penelitian dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, menjelaskan aroma tanah dipengaruhi senyawa geosmin dari bakteri Streptomyces. Senyawa tersebut dihasilkan selama proses dekomposisi bahan organik di tanah, yang berperan penting dalam pembentukan aroma tanah basah.

Dalam jurnal tersebut, dijelaskan tetesan hujan yang menghantam tanah membentuk gelembung udara kecil yang menjebak partikel geosmin. Gelembung tersebut pecah dan melepaskan aerosol ke atmosfer, sehingga aroma tanah dapat tercium dari jarak cukup jauh.

Penelitian tersebut juga menunjukkan manusia sangat sensitif terhadap geosmin, bahkan dalam konsentrasi sangat rendah tetap dapat terdeteksi. Kemampuan ini diduga berkaitan dengan kebutuhan evolusioner manusia terhadap air, sebagai sumber kehidupan yang penting bagi kelangsungan hidup.

Selain aspek kimia, studi internasional menyoroti mekanisme fisik dari proses ini melalui interaksi air hujan dan permukaan tanah. Proses tersebut menciptakan efek aerosolization, yang membantu menyebarkan partikel aroma ke udara dengan cepat dan merata di lingkungan.

Dengan demikian, aroma tanah saat hujan merupakan kombinasi kompleks antara senyawa kimia aktivitas mikroorganisme serta proses fisika alam. Fenomena ini menunjukkan, interaksi sederhana di alam mampu menghasilkan pengalaman sensorik yang bermakna bagi manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....