Pentakosta Nuansa Kei, Joni Betaubun Serukan Jaga Filosofi Ain Ni Ain

  • 26 Mei 2026 23:35 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Dewan Penasehat sekaligus Pembina Maskei, Joni Y. Betaubun, menyerukan pentingnya menjaga persaudaraan pada momentum perayaan Pentakosta bernuansa Kei di Gereja Paroki Kristus Juruselamat Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Senin (25/5/2026).

Seruan itu disampaikan dalam acara resepsi usai misa syukuran Pentakosta yang dipimpin Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. Seno Inno Ngutra, Pj. Sekda Papua Christian Sohilait, Ketua DPRP Denny Bonai dan perwakilan kerukunan masyarakat Kei se-Jayapura.

“Terima kasih atas penguatan rohani yang diberikan. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus saling mengasihi dan menjaga persaudaraan. Semboyan Ain Ni Ain harus tetap kita pegang,” ujarnya.

Ia menegaskan, perayaan Pentakosta memiliki makna mendalam bagi kehidupan gereja yang memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, dan persatuan dalam menjalankan misi pelayanan.

Menurutnya, perayaan Pentakosta bernuansa Kei yang awalnya hanya diikuti umat Katolik kini berkembang menjadi ruang kebersamaan lintas agama. Menurutnya, nilai adat masyarakat Kei telah menjadi fondasi yang menyatukan, melampaui perbedaan keyakinan.

“Orang Kei menjunjung adat sebagai dasar kehidupan. Karena itu, hari ini kita melihat umat Muslim, Protestan, dan Katolik bisa hadir bersama. Ini bukti bahwa persaudaraan lebih utama,” katanya.

Ia menekankan kehadiran dalam perayaan tersebut menjadi bagian dari panggilan gereja untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani.

“Bersekutu dengan membangun kebersamaan, menjaga persaudaraan, serta saling menghormati, baik dalam kehidupan gerejawi maupun sosial di Tanah Papua.

Lanjutnya, bersaksi dengan menghadirkan nilai-nilai Kristiani melalui perkataan, sikap, dan tindakan yang mencerminkan kasih, kejujuran, serta damai sejahtera.

“Melayani dengan memiliki kepedulian terhadap sesama, ringan tangan dalam menolong, serta berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, pendidikan, dan kehidupan sosial,” ucapnya.

Ia juga menyoroti filosofi Fangnangan Ain Ni Ain yang menjadi identitas masyarakat Kei mengandung makna persatuan hati, persaudaraan sejati, serta komitmen untuk saling menjaga sebagai satu keluarga.

“Ketika nilai budaya ini dipadukan dengan tuntunan Roh Kudus, maka akan lahir kehidupan yang harmonis, kuat dalam iman, dan menjadi berkat bagi banyak orang,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....