Kemenhaj Targetkan Peningkatan Penggunaan Pangan Indonesia untuk Haji 2027
- 16 Sep 2026 20:29 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Kementerian Haji dan Umrah menargetkan peningkatan penggunaan produk pangan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji pada 2027.
Upaya ini dilakukan melalui penataan ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, termasuk produksi, standardisasi, distribusi, ekspor, dan logistik.
Hal tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Monitoring Evaluasi Ekosistem Pangan Haji dan Umrah di Yogyakarta. Rapat tersebut digelar Kementerian Koordinator Bidang Pangan sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok pangan nasional untuk haji.
Indonesia memperoleh kuota 221.000 jemaah untuk musim haji 2027, menjadi potensi pasar dan peluang strategis bagi pangan nasional.
Jumlah tersebut menjadi peluang memperluas pemanfaatan produk pangan nasional, dalam rantai pasok penyelenggaraan haji di Arab Saudi mendatang.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengatakan pengembangan ekosistem pangan diarahkan memperkuat kemandirian nasional.
Penguatan dilakukan melalui optimalisasi produk dalam negeri, untuk memenuhi kebutuhan jemaah sekaligus mendukung ekspor pangan Indonesia ke Saudi.
“Kita ingin mewujudkan kemandirian pangan dengan memberdayakan produk nasional. Kalau kebutuhan bisa dipenuhi dari dalam negeri, tidak perlu lagi mengandalkan impor,” ujarnya, Selasa (15 September 2026).
Menurut Jaenal, pengembangan produk pangan untuk kebutuhan jemaah tidak hanya mencakup bumbu dan ready to eat (RTE). Tetapi juga diarahkan pada komoditas utama seperti beras, protein, buah, sayur, dan minyak. Kemenhaj mendorong pemanfaatan produk pangan berbagai daerah serta memperluas keterlibatan pelaku usaha dan UMKM dalam rantai pasok haji.
“Penguatan produk nasional tersebut perlu didukung inovasi dan teknologi agar sesuai dengan kebutuhan serta kondisi di Arab Saudi. Untuk itu, perguruan tinggi didorong mengambil peran dalam riset dan pengembangan teknologi pangan. Termasuk pengembangan RTE berbasis beras nasional dan produk lokal yang mampu beradaptasi dengan cuaca Arab Saudi,” ucapnya.
Dirinya menjelaskan, kesiapan produk akan ditata melalui peta jalan. Yakni mencakup standardisasi, kurasi penyedia, produksi, dan pengemasan, pemenuhan regulasi, hingga proses ekspor dan logistik.
“Peta jalan 2027 harapannya seluruh produk pangan ditargetkan siap berlabuh dan berada di Arab Saudi. Yaitu satu bulan sebelum keberangkatan. Penataan rantai pasok dilakukan secara end-to-end. Mulai dari pemetaan kebutuhan dan kapasitas produksi, pemilihan penyedia, standardisasi gizi dan mutu, hingga distribusi di Arab Saudi. Aspek ketertelusuran juga menjadi perhatian. Termasuk pemantauan bahan baku dan proses produksi untuk memastikan produk yang digunakan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan,” katanya.
Pengembangan ekosistem Pangan tersebut membutuhkan sinergi lintas sektor. Karena itu, Rakor melibatkan kementerian/lembaga, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan terkait. Langkah tersebut untuk menyatukan perencanaan dan membangun rantai pasok pangan yang lebih terintegrasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....