Menag Dukung Literasi Digital di Pendidikan Agama
- 30 Apr 2026 21:31 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut positif inisiatif UNESCO dalam memperkuat Media and Information Literacy (MIL), khususnya di lingkungan pendidikan keagamaan. Pendekatan berbasis pendidikan dinilai relevan untuk melindungi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital. Dalam pertemuan di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu 22April 2026. Silansir dari laman Lemenah.go.id, Menag menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan agama dalam membangun ketahanan informasi. Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 42.000 pondok pesantren sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nonformal.
“Kita perlu melindungi para pelajar,” tegas Nasaruddin. Ia menambahkan, tantangan utama tidak hanya pada konten berbahaya, tetapi juga pada kesiapan tenaga pendidik. “Para guru di sekolah keagamaan belum tentu memiliki pelatihan yang memadai seperti di pendidikan umum,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Kantor UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menegaskan urgensi penguatan literasi media dan informasi untuk menghadapi risiko digital seperti disinformasi, ujaran kebencian, dan bahaya daring lainnya. “Pendekatan literasi harus dilakukan secara sistematis, tidak hanya preventif tetapi juga proaktif,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan guru. “Pelatihan guru dalam isu ini sangat krusial,” tambahnya.
Program yang dikembangkan UNESCO bersama mitra di Indonesia mengusung pendekatan berbasis riset dan penguatan kapasitas. Spesialis Program UNESCO, Ana Lomtadze, menyebut studi melibatkan ratusan sekolah untuk memahami kondisi riil. “Kami mensurvei 417 sekolah, termasuk madrasah, serta melakukan wawancara dengan guru dan kepala sekolah,” ungkapnya.
Hasil penelitian menunjukkan pelatihan literasi digital yang ada masih terbatas dan belum terintegrasi secara efektif dalam pembelajaran. “Pelatihan yang diberikan umumnya singkat, sehingga sulit diimplementasikan dalam proses belajar mengajar,” uval Ana.
Peneliti dari Universitas Islam Internasional Indonesia, Aan, menambahkan bahwa para pendidik sebenarnya telah memahami konsep literasi media, namun masih kekurangan keterampilan praktis. “Guru dan kepala madrasah umumnya memahami konsep MIL, tetapi belum memiliki kemampuan teknis untuk menerapkannya,” ujarnya.
UNESCO mengusulkan pendekatan sistemik melalui pengembangan kurikulum, pelatihan guru, kebijakan sekolah, serta kolaborasi dengan orang tua. Salah satu inovasi program adalah pengembangan modul literasi media yang terintegrasi dengan kurikulum keagamaan, mencakup isu ujaran kebencian, penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, serta penguatan nilai-nilai agama di ruang digital.
Program ini telah diuji coba melalui pelatihan guru di beberapa daerah dan menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta. Ke depan, penguatan kelembagaan dan integrasi kebijakan dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan implementasi literasi media di lingkungan pendidikan keagamaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....