Tsundoku: Kebiasaan Membeli Buku tanpa Dibaca

  • 16 Agt 2026 14:38 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Istilah unik tsundoku, menggambarkan kebiasaan seseorang dalam membeli banyak buku baru namun tidak pernah sempat membaca seluruhnya. Tumpukan tatanan buku tersebut akhirnya hanya terbiarkan begitu saja, menghiasi sudut ruangan rumah maupun meja kerja milik pribadi.

Melansir Lpmdimensi, kata tsundoku berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jepang. Yaitu tsunde-oku, yang berarti dibiarkan menumpuk dan dokusho, yang berarti membaca buku. Jadi, tsundoku merupakan istilah untuk menggambarkan keadaan memiliki bahan bacaan, tetapi membiarkannya menumpuk tanpa dibaca.

istilah tsundoku diketahui berasal dari zaman Meiji ( Tahun 1868-1912). Penjelasannya juga dikemukakan Profesor Andrew Gerstle, berjudul Tsundoku : The Art of Buying Books and Never Reading . Ia mengatakan, istilah tsundoku ditemukan di media cetak sekitar tahun 1879.

Banyak hal yang menjadi penyebab kebiasaan tsundoku. Ada yang melakukannya untuk mendapatkan sensasi kesenangan dari menumpuk buku, ataupun pengakuan sebagai seorang yang intelek atau cerdas. Biasanya, alasan paling umum, adalah punya kesempatan untuk membeli banyak buku, tapi kekurangan waktu atau niat untuk membaca.

Rasa memiliki buku memberikan rasa tenang serta kebahagiaan emosional bagi seseorang, walau belum sempat membukanya sama sekali sekarang. Banyak orang merasa terinspirasi, hanya dengan melihat deretan judul menarik yang ada pada rak koleksi pribadi mereka sendiri.

Faktor kesibukan harian, sering menjadi alasan utama seseorang gagal meluangkan waktu untuk menyelesaikan seluruh isi buku yang dibeli. Daya tarik sampul serta promosi diskon, juga memicu dorongan impulsif saat berkunjung ke toko buku terdekat di kota.

Koleksi buku seharusnya menjadi jendela pengetahuan bernilai. Menghargai setiap buku yang dimiliki, akan membuat aktivitas membaca menjadi jauh lebih menyenangkan bagi semua orang. Bukan sekadar pajangan mati yang berdebu di sudut ruangan rumah kita.

Untuk mengatasi penumpukan ini, langkah awal yang bijak adalah mulai menetapkan jadwal rutin membaca setiap hari tanpa terputus. Menentukan target membaca beberapa halaman harian, terbukti ampuh membangun kebiasaan positif secara bertahap dan konsisten pada setiap kesempatan.

Perilaku tsundoku belum bisa dikatakan sebagai penyakit atau sindrom, sebab belum ada istilah medisnya. Sesekali melakukan tsundoku mungkin tidak mengapa. Namun perlu diingat, bahwa perilaku ini menghambur-hamburkan uang, waktu, dan memenuhi ruangan.

Sebenarnya, menjadi atau menghindari tsundoku adalah pilihan. Hanya saja, kebiasaan seperti ini seharusnya dapat diperbaiki.

Salah satu caranya yaitu, menyumbangkan buku ketika sudah selesai membaca dan ingin membeli dengan yang baru. Kita bisa berbagi ilmu pengetahuan kepada dunia, dan bisa menjualnya, serta mendapat uang untuk membeli buku lagi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....