Merangkai Bunga Hidup, Salah Satu Bentuk Cinta Alam
- 20 Mei 2026 14:28 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Mencintai alam bukan sekadar ucapan, melainkan diwujudkan melalui tindakan sederhana seperti merawat tanaman hias setiap hari dengan penuh perhatian. Kegiatan tersebut dilakukan ibu-ibu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), yang menggunakan bunga dan dedaunan pada perayaan-perayaan gereja Katolik.
Perayaan gereja Katolik, umumnya dihiasi bunga hidup sehingga kecintaan terhadap tanaman terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kondisi ekonomi Papua yang mahal, mendorong ibu-ibu memanfaatkan dedaunan sebagai dekorasi altar dan tempat perayaan di gereja.
Salah seorang perangkai bunga gereja di Abepura, Kota Jayapura, ialah Aloysia Futuembun Liem, yang juga dosen Universitas Cenderawasih. Selain menjadi pengusaha katering, dirinya mengaku mencintai tanaman sejak remaja sehingga terbentuk kepedulian besar terhadap alam sekitar.
Aloysia mengatakan ibu-ibu Wanita Katolik, selalu menanamkan rasa cinta alam melalui kegiatan merawat berbagai tanaman hias setiap hari. "Dan bagi saya, merangkai bunga hidup itu, salah satu kegiatan untuk mewujudkan rasa cinta. Selain itu bentuk kepedulian terhadap alam," ujarnya, Rabu (20 Mei 2026).
Menurut Aloysia, beberapa tanaman bahkan dikembangkan langsung pada lingkungan gereja untuk memenuhi kebutuhan dekorasi berbagai perayaan keagamaan tahunan. Merangkai bunga hidup juga dianggap menjadi kegiatan kreatif, yang memperlihatkan rasa cinta terhadap alam dan lingkungan.

Merangkai bunga merupakan wadah kreativitas, sekaligus sarana manusia terhubung langsung dengan keindahan alam sekitar. Dalam merangkai bunga, diperlukan perhatian terhadap garis, bentuk, ukuran, dan ritme agar tampilannya terlihat indah dipandang banyak orang.
Aloysia mengatakan, harga bunga di Kota Jayapura tergolong mahal sehingga diperlukan kreativitas memanfaatkan tanaman lokal Papua. Dirinya bersama ibu-ibu lainnya memadukan dedaunan Papua, dengan bunga yang didatangkan khusus dari luar daerah untuk dekorasi gereja.
Menurutnya, hasil rangkaian bunga ibu-ibu di Jayapura terlihat menarik karena menggunakan perpaduan warna sesuai tema perayaan gereja. Beberapa perayaan khusus, bahkan hanya memakai dedaunan tanpa bunga sehingga tetap terlihat indah dan nyaman dipandang seluruh jemaat.
Aloysia mengaku, kemampuan merangkai bunga diperoleh secara otodidak melalui pengalaman panjang selama melayani kebutuhan dekorasi gereja Katolik. Ia merasa bangga, karena hasil rangkaian bunga karya ibu-ibu Jayapura dinilai tidak kalah menarik dibandingkan tayangan media digital.
"Pokoknya cukup terpesonalah. Sekalipun kami belajar otodidak saja dalam merangkai bunga," katanya sambil menunjukkan beberapa hasil karyanya yang sempat didokumentasikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....