Hari Buku Nasional, Menjaga Nyala Literasi di tengah Gempuran Layar dan Algoritma

  • 17 Mei 2026 11:42 WIB
  •  Jayapura
Poin Utama
  • Membaca buku konvensional berfungsi sebagai media detoks digital yang efektif untuk melatih kembali fokus dan kedalaman berpikir
  • ebiasaan memindai informasi di layar gawai mengikis rentang perhatian (attention span) dan kemampuan berpikir kritis masyarakat
  • Momentum HBN menjadi ajakan bagi publik untuk merebut kembali kendali pikiran dari dominasi algoritma gawai

RRI.CO.ID, Jayapura - Gempuran algoritma media sosial dan tayangan tanpa henti di layar ponsel dinilai semakin mencuri perhatian masyarakat. Momentum Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei menjadi pengingat penting agar masyarakat kembali meluangkan waktu membaca buku fisik di tengah derasnya arus digital.

Di tengah dominasi layar sentuh, Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi alarm pengingat kapan terakhir kali seseorang menyelesaikan satu buku tanpa terdistraksi notifikasi gawai.

Budaya konsumsi informasi instan melalui layar digital disebut turut memengaruhi rentang perhatian masyarakat. Sebaliknya, membaca buku fisik dinilai mampu melatih fokus, kesabaran, serta menghadirkan ruang kontemplasi bagi pembacanya.

Penyiar Pro2 RRI Jayapura sekaligus pecinta buku, Irma Suryani Rahayaan, menilai buku fisik memiliki nilai dan jiwa yang tidak tergantikan oleh layar digital.

“Semoga semakin banyak orang jatuh cinta pada membaca, karena buku selalu punya cara mengubah cara kita melihat dunia,” ujarnya, Minggu (17/05/2026).

Menurut Irma, kecintaan terhadap buku tidak dapat diukur dari jumlah buku yang telah dibaca maupun dikoleksi.

“Kalau sudah cinta buku, ukurannya bukan berapa banyak buku yang telah dibaca, tetapi bagaimana setiap buku bisa meninggalkan makna di hati seseorang,” tambahnya.

Meski beberapa tahun lalu sempat muncul prediksi bahwa buku cetak akan tergeser oleh e-book maupun audio digital, tren saat ini justru menunjukkan minat baru terhadap buku fisik, terutama di kalangan anak muda.

Fenomena global seperti #BookTok di TikTok dan #Bookstagram di Instagram menjadi bukti bahwa buku fisik kini berkembang bukan hanya sebagai sumber literasi, tetapi juga simbol gaya hidup dan bentuk perlawanan terhadap kelelahan digital atau digital fatigue.

Selain isi bacaan, buku fisik juga menghadirkan pengalaman sensorik yang sulit digantikan teknologi digital, mulai dari aroma khas kertas, tekstur halaman saat dibalik, hingga kepuasan melihat deretan buku yang selesai dibaca di rak penyimpanan.

Di tengah derasnya perubahan tren dan informasi digital yang bergerak cepat, membaca buku kini dinilai sebagai bentuk self-care untuk menjaga ketenangan pikiran.

Layar gawai mungkin menawarkan dunia yang serba instan, namun buku menghadirkan ruang sunyi yang membantu manusia tetap berpikir, berefleksi, dan menjaga imajinasi. Masyarakat pun diajak memanfaatkan Hari Buku Nasional dengan kembali membuka buku dan menumbuhkan budaya literasi di tengah derasnya arus algoritma digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....