Mengapa Laki-Laki Jarang Unggah Story Media Sosial

  • 11 Mei 2026 20:50 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Melansir Psychology Today dan Journal of Computer-Mediated Communication, pria jarang membagikan momen pribadi melalui fitur story media sosial. Fenomena tersebut dipengaruhi faktor psikologis serta norma sosial, yang membuat pria menjaga privasi dengan sangat ketat sehari-hari.

Laman psikologi, menyebut pria lebih senang menikmati momen secara langsung tanpa gangguan penggunaan gawai digital ketika beraktivitas sehari-hari. Mereka menilai kebiasaan mendokumentasikan setiap kejadian kecil, dapat mengurangi makna pengalaman berharga yang sedang dijalani langsung.

Dibanding mengunggah kata-kata mutiara pada story, pria lebih memilih menampilkan hobi sebagai bentuk kebanggaan diri mereka Beberapa aktivitas yang sering dibagikan meliputi olahraga, otomotif, memancing, maupun kegiatan lain yang disukai banyak pria modern.

Sebagian pria memanfaatkan media sosial seperlunya, sambil tetap menikmati momen nyata tanpa terlalu bergantung pada penggunaan gawai. Mereka lebih fokus menjaga produktivitas, mengatur efisiensi waktu, serta menghemat penggunaan baterai selama menjalankan aktivitas sehari-hari secara maksimal.

Sebuah riset menunjukkan, laki-laki sering merasa enggan dianggap mencari perhatian berlebihan melalui aktivitas media sosial mereka . Fokus utama mereka biasanya lebih mengarah pada fungsi komunikasi praktis, dibanding sekadar memamerkan gaya hidup kepada publik.

Selain itu, pria cenderung hanya mengunggah sesuatu yang dianggap memiliki nilai pencapaian maupun urgensi tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Jika suatu peristiwa dianggap biasa, mereka lebih memilih menyimpannya sendiri sebagai kenangan pribadi yang bersifat eksklusif dan berharga.

Tekanan untuk terlihat maskulin dan tenang, turut membatasi ekspresi emosional pria dalam ruang publik digital modern saat ini. Kondisi tersebut membuat mereka lebih selektif memilih konten, agar tetap terlihat berwibawa dan tidak terlalu emosional berlebihan.

Meski demikian, tren tersebut mulai berubah seiring meningkatnya kesadaran pentingnya ekspresi diri bagi kesehatan mental masyarakat modern. Media sosial, kini perlahan menjadi ruang lebih inklusif bagi semua orang tanpa memandang perbedaan gender dalam berbagi cerita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....