Malam-Malam Putih: ketika Pertemuan Singkat Meninggalkan Luka yang Panjang
- 21 Agt 2026 07:20 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Buku Malam-Malam Putih karya Fyodor Dostoevsky merupakan kisah tentang kesepian, cinta, harapan, dan pertemuan singkat yang membekas. Cerita ini menghadirkan suasana romantis sekaligus melankolis melalui hubungan dua orang yang sama-sama membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita.
Melansir dari EBSCO Research, White Nights atau Malam-malam Putih, pertama kali diterbitkan pada 1848 dan mengambil latar di Saint Petersburg, Rusia. EBSCO menjelaskan kisah ini berpusat pada seorang narator tanpa nama yang hidup menyendiri sebelum bertemu dengan Nastenka.
Pertemuan tersebut terjadi secara kebetulan ketika sang narator menemukan Nastenka dalam keadaan sedih di sebuah malam. Dari pertemuan sederhana itu, keduanya kemudian saling bercerita tentang kehidupan, kesepian, serta harapan masing-masing.
Namun, kedekatan mereka ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan sang narator sejak awal pertemuan. Nastenka masih menunggu seseorang yang pernah berjanji kembali kepadanya, sehingga harapan sang narator perlahan berhadapan dengan kenyataan.
Dostoevsky menariknya menggambarkan cinta bukan sebagai sesuatu yang selalu berakhir dengan kebahagiaan. Justru melalui kisah ini, pembaca diajak memahami bagaimana seseorang dapat mencintai dengan tulus meskipun akhirnya harus merelakan.
Hal yang membuat buku ini menarik adalah pergulatan batin tokoh utamanya yang terasa sangat manusiawi dan dekat dengan pembaca. Kesepian, rasa berharap, takut kehilangan, hingga menerima kenyataan menjadi emosi yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Malam-Malam Putih pada akhirnya bukan hanya cerita tentang cinta yang tidak berbalas, tetapi juga tentang arti sebuah pertemuan. Buku ini meninggalkan pertanyaan sederhana kepada pembaca: Apakah sebuah kebahagiaan harus berlangsung lama untuk menjadi sesuatu yang berarti?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....