Orang Baik Memilih Diam, Mengapa Fenomena Ini Terjadi?

  • 26 Jul 2026 16:18 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Belakangan ini, fenomena orang dikenal baik memilih diam saat menyaksikan ketidakadilan menjadi perhatian banyak kalangan di masyarakat. Sikap tersebut sering dianggap sebagai ketidakpedulian, meskipun para ahli menilai kenyataannya jauh lebih kompleks daripada anggapan umum.

Ilmuwan Otak dan Perilaku UPN Veteran Jakarta, Taufiq Fredik Pasiak, menjelaskan kemajuan masyarakat memerlukan keberanian menghadapi tekanan sosial. Menurutnya, peradaban dibangun oleh mereka yang mengendalikan rasa takut, serta mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi berbagai tekanan sosial.

Kebaikan memang memperindah kehidupan, tetapi keberanian melawan kejahatan menjaga martabat kehidupan manusia dalam berbagai situasi bersama bermakna. Menurutnya, kedewasaan otak terlihat, ketika manusia menggunakan kemampuan berpikir melampaui naluri biologis demi mempertahankan nilai kebenaran bersama.

Ia menambahkan, otak diciptakan untuk membantu manusia bertahan hidup dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan setiap harinya bersama. Namun manusia matang menggunakan otaknya bukan sekadar menyelamatkan diri, melainkan menjaga nilai kehidupan bersama tetap bermartabat selamanya bersama.

Dalam kajian psikologi sosial, seseorang dapat memilih diam karena kelelahan emosional maupun rasa takut menghadapi berbagai konflik sosial. Pengalaman pernah disalahkan atau dikucilkan juga membuat seseorang lebih berhati-hati menyampaikan pendapat dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Di sisi lain, diam tidak selalu berarti seseorang menyetujui tindakan atau pendapat yang sedang berkembang di masyarakat luas. Sebagian orang memilih mengamati situasi terlebih dahulu sebelum bertindak, sementara lainnya membantu langsung tanpa memperkeruh keadaan bersama masyarakat.

Pemerhati sosial mengingatkan semakin banyak orang memilih diam, ruang publik berisiko dikuasai suara paling keras tanpa kebijaksanaan bersama. Akibatnya, informasi keliru, perilaku tidak etis, maupun tindakan merugikan dapat berkembang tanpa adanya koreksi dari masyarakat luas bersama.

Meski demikian, keberanian menyampaikan pendapat tetap memerlukan pertimbangan matang agar tidak menimbulkan persoalan baru dalam kehidupan bersama masyarakat.

Pendapat sebaiknya disampaikan berdasarkan data, etika, serta penghormatan kepada pihak lain, sehingga menjadi bagian solusi bersama yang membangun.

Pada akhirnya, menjadi orang baik bukan sekadar menghindari konflik, melainkan mengetahui kapan berbicara maupun mendengarkan dengan bijaksana bersama.

Menjaga keseimbangan antara kebijaksanaan dan keberanian menjadi tantangan penting dalam kehidupan bermasyarakat pada masa sekarang bagi semua.

Karena itu, masyarakat diharapkan terus membangun lingkungan yang saling menghargai, terbuka, serta menghormati berbagai perbedaan pendapat secara bijaksana. Keberanian menyampaikan kebenaran dengan etika diharapkan mampu memperkuat persatuan, kepercayaan, serta kehidupan bermasyarakat yang semakin harmonis bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....