Memperkuat Toleransi lewat Lagu
- 06 Apr 2026 14:14 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – Toleransi antarsuku dan budaya di Tanah Papua, telah terjalin dengan baik dalam kehidupan masyarakat sehari hari. Namun, masih terdapat sekat-sekat dalam dunia musik daerah yang belum sepenuhnya menyatu secara harmonis dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Hendrik Baransano, seorang pemusik dan pencipta lagu daerah berbahasa Biak yang tergabung dalam grup Eyuser. Ia menilai, musik seharusnya menjadi media pemersatu lintas budaya dan bahasa daerah di Papua tanpa adanya sekat.
"Masih terkesan main musik sendiri sendiri, jadi bagian ini harus disingkirkan. Supaya toleransi di dunia musik juga terjalin dengan baik”, ujarnya di Podcast RRI Jayapura beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kolaborasi dapat dilakukan dalam satu panggung dengan memadukan bahasa daerah dan alat musik tradisional masing-masing. Dengan begitu, perbedaan justru menjadi kekuatan yang menyatukan dan memperkaya nilai seni musik daerah secara keseluruhan.
Ia menegaskan, bahwa selama ini musik daerah masih terkesan berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya ruang kolaborasi yang terbuka. Padahal, jika disatukan, musik daerah dapat menjadi sarana memperkuat toleransi dan kebersamaan antarsuku di Papua.

Hendrik mencontohkan kolaborasi yang bisa dilakukan bersama musisi dari daerah lain, seperti Maluku dan Aceh dalam satu panggung. Ia pernah membawakan lagu Apuse menggunakan tifa, sementara musisi lain menggunakan gambus dengan bahasa daerah masing masing.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa perbedaan alat musik dan bahasa, tidak menjadi penghalang untuk menciptakan harmoni yang indah. Justru melalui kolaborasi, lagu-lagu daerah menjadi lebih hidup serta mampu memperkuat nilai toleransi antar budaya.
Menanggapi perkembangan generasi muda, ia mengapresiasi kemudahan teknologi yang membantu karya musik dikenal hingga ke tingkat global. Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya melakukan riset dan memahami akar budaya, sebelum menciptakan sebuah karya.
Menurutnya, setiap karya memiliki tanggung jawab yang harus dijaga agar tetap memiliki nilai dan makna yang kuat. Oleh karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menghargai proses dan identitas budaya.
"Saya berpesan, agar karya mereka bukan langsung hari ini, tetapi selalu flashback dan riset. Dengan begitu karya mereka kuat dan mampu dipertanggungjawabkan, karena setiap karya, ada pertanggungjawabannya," ucapnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....