Novel The Running Man Angkat Distopia Hiburan

  • 28 Des 2025 13:47 WIB
  •  Jayapura

KBRN, Jayapura: Novel The Running Man karya Stephen King, kembali diperbincangkan karena mengangkat tema distopia hiburan ekstrem modern. Buku ini mengisahkan permainan mematikan, yang menjadikan manusia tontonan demi kekuasaan dan kepentingan rating media.

Stephen King menulis The Running Man, sebagai kritik keras terhadap media massa kapitalistik dan eksploitasi manusia miskin. Cerita ini menggambarkan dunia futuristik yang menormalisasi kekerasan sebagai hiburan publik tanpa empati kemanusiaan.

Dayat, seorang praktisi public speaking, menilai The Running Man relevan dengan realitas komunikasi massa saat ini. Menurutnya, novel tersebut menunjukkan bagaimana pesan publik bisa dimanipulasi demi kepentingan kekuasaan dan popularitas.

Dayat, menyebut karakter utama dalam novel mencerminkan tekanan psikologis manusia ketika terus diawasi publik. Ia menilai cerita ini penting dibaca, untuk memahami etika komunikasi dan dampak media terhadap masyarakat luas.

Sementara itu, Iani seorang ibu rumah tangga, tertarik pada cerita karena alurnya menegangkan dan emosional. Ia mengaku mudah terbawa perasaan saat membaca perjuangan tokoh utama demi keluarganya.

Menurut Iani, The Running Man menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat di balik cerita penuh kekerasan. Ia menilai novel ini mengajarkan empati serta pentingnya mempertahankan nilai moral dalam kondisi terdesak.

Melansir dari penerbit Gramedia, The Running Man pertama terbit tahun 1982 dengan nama Richard Bachman. Nama tersebut kemudian diketahui sebagai samaran Stephen King, setelah identitasnya terungkap ke publik global.

Hingga kini, The Running Man tetap relevan dibaca karena kritik sosialnya masih terjadi. Novel ini menunjukkan, sastra mampu menjadi cermin tajam terhadap masyarakat modern yang haus hiburan ekstrem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....